Darilaut – Gletser sering disebut sebagai “menara air dunia” karena lembah sungai dengan hulu di pegunungan memasok air tawar bagi miliaran orang, termasuk di wilayah Himalaya-Hindu Kush dan Dataran Tinggi Tibet, yang dikenal sebagai Kutub Ketiga.
Mencairnya gletser, salju dan es memberikan dampak jangka pendek seperti bahaya tanah longsor, longsoran salju, banjir dan kekeringan, serta ancaman jangka panjang terhadap keamanan pasokan air bagi miliaran orang.
“Gletser tidak peduli jika kita percaya pada sains – mereka hanya mencair dalam panas untuk dilihat semua orang,” kata John Pomeroy, salah satu ketua Dewan Penasihat dan seorang profesor di University of Saskatchewan.
Menurut Pomeroy lebih dari 2 miliar orang mengandalkan salju dan es gunung untuk mengisi kembali sungai, danau, dan air tanah mereka untuk mendukung ekosistem, pertanian, energi, industri, dan air minum.
“Semua ini sekarang berisiko karena pemanasan global yang menyebabkan mundurnya gletser yang cepat, banjir danau gletser, kekeringan salju, hilangnya es laut, kenaikan permukaan laut, pencairan permafrost dan kebakaran hutan,” katanya.
Lebih dari 275.000 gletser di seluruh dunia mencakup sekitar 700.000 km². Gletser dan lapisan es menyimpan sekitar 70% air tawar global.
Namun, formasi es ini dengan cepat mencair karena perubahan iklim. Pelestarian sumber daya ini sangat penting tidak hanya untuk kelestarian lingkungan, tetapi juga untuk stabilitas ekonomi dan perlindungan layanan budaya dan mata pencaharian.
Berikut ini, inisiatif pelestarian gletser yang berfokus pada beberapa bidang penting:
· Memperluas sistem pemantauan gletser global untuk meningkatkan pengumpulan dan analisis data
· Mengembangkan sistem peringatan dini untuk bahaya terkait gletser
· Mempromosikan pengelolaan sumber daya air berkelanjutan di daerah yang bergantung pada gletser
· Melestarikan warisan budaya dan pengetahuan tradisional yang berkaitan dengan lingkungan glasial
· Melibatkan pemuda dalam upaya pelestarian gletser dan aksi iklim
Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa memproklamirkan Tahun Internasional Pelestarian Gletser pada Desember 2022, dan menetapkan 21 Maret sebagai Hari Gletser Sedunia.
Hal ini sebagai upaya meningkatkan kesadaran akan peran penting gletser, salju, dan es dalam sistem iklim dan siklus hidrologi, serta dampak luas dari pencairan glasial yang cepat dan dampaknya terhadap ekonomi dan masyarakat.
UNESCO dan Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) secara resmi meluncurkan Tahun Internasional Pelestarian Gletser (International Year of Glaciers Preservation) pada 21 Januari 2025. Peluncuran ini sebagai seruan global agar bertindak untuk menyelamatkan es Bumi.
