arilaut – Hujan dengan intensitas tinggi dan durasi yang lama menyebabkan banjir di sejumlah wilayah di Indonesia.
Di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, sebanyak 82 rumah warga tergenang banjir, Rabu (10/8). Saluran drainase yang tertutup sampah membuat gorong-gorong yang berada di Perumahan Mutiara Hijau, Desa Pakansari, Kecamatan Cibinong tersendat. Hal ini berimbas limpasan air masuk hingga ke pemukiman warga.
Pusat Pengendalian Operasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan sebanyak 82 KK / 246 jiwa terdampak. Pantauan visual, tinggi muka air saat terjadi banjir hingga 50 sentimeter.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) melakukan asesemen dan kaji cepat di lapangan. Hasil kaji cepat menyebutkan banjir kini sudah surut di beberapa wilayah. Koordinasi antar lintas instansi juga terus dijalin guna mengantisipasi adanya potensi banjir susulan.
Hujan pada Selasa (9/8) malam hingga Rabu (10/8) pagi menyebabkan terjadinya banjir dan tanah longsor di sejumlah titik di wilayah Kecamatan Wanareja, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.
BPBD Kabupaten Cilacap mencatat sedikitnya ada lima desa yang mengalami kejadian banjir dan longsor.
Adapun yang pertama adalah Desa Adimulya dengan kejadian tanah longsor milik Perhutani hingga menutup ruas jalan kabupaten atau yang menjadi jalur alternatif antara Adimulya-Malabar, tepatnya di tanjakan Geger Kondang.
Hasil asesmen didapatkan panjang longsoran mencapai 10 meter, lebar 10 meter, kemiringan 20 meter dan ketebalan material longsor 2,5 meter.
Akibat longsoran itu, jalur tersebut sementara hanya dapat dilalui kendaraan roda dua saja, sehingga menghambat mobilitas warga.
Banjir yang terjadi di wilayah Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo, menyebabkan 40 rumah warga dan 4,5 Ha lahan pertanian jagung terendam banjir dengan tinggi muka air 20 hingga 80 centimeter.
Banjir terjadi setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut pada hari Senin (8/8). BPBD Kabupaten Pohuwato mencatat sebanyak 145 jiwa terdampak banjir. Daerah terdampak mencakup Kecamatan Paguat, dan Desa Molamahu di Kecamatan Dengilo. Selain rumah, satu unit sarana pendidikan TK dan jalan trans Sulawesi dilaporkan ikut terendam banjir.
Banjir yang terjadi sejak Jumat (5/8) masih menggenangi sejumlah desa di Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah.
BPBD Kabupaten Katingan menginformasikan genangan yang terjadi pada sejumlah desa di tiga kecamatan mengganggu aktivitas warga.
BPBD memantau kegiatan masyarakat mengalami kelumpuhan pada Minggu (7/8). Sebanyak 733 KK terdampak banjir tersebut.
Sementara itu, 419 rumah terendam, dan fasilitas publik terdampak, seperti fasilitas pendidikan 3 unit, perpustakaan 1 unit, sarana kesehatan 2 unit, tempat ibadah 5 unit. Tinggi muka air terpantau antara 20 hingga 70 cm.
Banjir melanda enam kecamatan di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Banjir dengan tinggi muka air antara 20 hingga 180 cm tersebut, terjadi setelah hujan dengan intensitas tinggi pada Kamis (4/8) sore hari hingga Jumat (5/8).
Pusat Pengendalian Operasi BNPB melaporkan warga terdampak banjir yang terjadi sejak (6/8) berjumlah 4.533 KK/15.382 jiwa. Terdiri dari 3.691 KK/12.323 jiwa di Kecamatan Putussibau Utara, 310 KK/922 jiwa di Kecamatan Putussibau Selatan, 14 KK/90 jiwa di Kecamatan Silat Hilir. 260 KK / 1274 jiwa di Kecamatan Seberuang, dan 258KK/773 jiwa di Kecamatan Bika. Kondisi terkini banjir telah surut.
Kerugian materil tercatat 1 jembatan rusak, 71 fasilitas umum terdampak, 2.984 unit rumah terdampak, tidak ada laporan korban jiwa akibat kejadian ini.
Banjir melanda dua desa di wilayah Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan, Sulawesi Utara, pada Sabtu (6/8). Personel BPBD setempat bersiaga untuk mengantisipasi dampak saat peristiwa itu terjadi.
Genangan dengan tinggi muka air 30 – 100 cm melanda dua desa di Kecamatan Pinolosian. Desa terdampak berada di Desa Tolotoyon dan Ilomata. Pihak BPBD juga melakukan pendataan dampak banjir tersebut.
Pusat Pengendalian Operasi BNPB melaporkan sebanyak 333 KK atau 1.175 warga dua desa terdampak banjir tersebut. Tidak ada laporan korban jiwa maupun warga desa yang mengungsi meskipun 333 rumah terendam banjir.
Hujan dengan intensitas tinggi menyebabkan kenaikan debit air hingga mengakibatkan tanggul jebol di Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, Senin (1/8).
Jebolnya tanggul tersebut diperkirakan karena tidak cukup kuat menahan kenaikan volume air, sehingga menyebabkan permukiman warga di Desa Anggoro Kecamatan Abuki terendam banjir.
Banjir berdampak kepada 37 KK / 150 jiwa, selain itu merendam 35 unit rumah dan 30 hektare sawah dengan tinggi muka air kisaran 30 sampai 50 centimeter.
BNPB mengimbau kepada masyarakat dan pemangku kebijakan di daerah untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan kewaspadaan terhadap potensi bencana banjir khususnya bagi warga yang bermukim di dekat sungai.
Upaya seperti monitoring lereng perbukitan, susur sungai dan pembersihan aliran sungai dan kanal serta irigasi agar dilakukan secara berkala untuk memininalisir potensi bencana susulan yang dapat dipicu oleh faktor cuaca dan kondisi tata ruang lingkungan.
Apabila terjadi hujan dalam durasi lebih dari satu jam, maka masyarakat yang tinggal di bantaran sungai atau di lereng gunung maupun tebing agar mengungsi ke tempat yang lebih aman untuk sementara waktu.
