Belum Punah, Topan Freddy Menguat di Alur Mozambik

Banjir di beberapa wilayah Mozambik akibat Topan Freddy yang melanda negara itu pada 24 Februari. FOTO: IOM

Darilaut – Siklon tropis (Tropical Cyclone) Freddy yang berkembang awal Februari lalu di selatan Nusa Tenggara, Indonesia, hingga Maret ini masih belum punah. Topan Freddy, sekali lagi menguat di Alur Mozambik (Mozambique Channel) pada Minggu (5/3).

Hampir 400.000 orang telah terkena dampak di Madagaskar dan Mozambik karena Topan Freddy membawa hujan lebat, angin kencang, banjir, dan naiknya permukaan air.

Saat ini Freddy berada di barat-barat laut Toliara, Madagaskar atau timur tenggara Vilanculos, Mozambik.

Selama enam jam terakhir Freddy yang terletak 70 km barat-barat daya Pulau Europa, telah bergerak ke arah timur dengan kecepatan 9 km per jam (5 knot), kata Pusat Peringatan Siklon Tropis Bersama, Joint Typhoon Warning Center (JTWC).

Freddy telah beregenerasi di selatan Alur Mozambik. Secara bertahap, Freddy akan meningkat intensitasnya menjadi 120 km per jam (65 knot).

Setelah itu, menurut JTWC, Freddy akan mengarah ke barat laut. Saat menuju barat laut, dalam empat hari, intensitas Freddy akan terus meningkat menjadi 155 km per jam (85 knot).

Tinggi gelombang signifikan maksimum adalah 4 meter, kata JTWC.

Pengungsi Bertambah

Dalam siaran pers (2/3) Organisasi Internasional untuk Migrasi atau International Organization for Migration (IOM) mengatakan jumlah pengungsi di Madagaskar dan Mozambik telah meningkat. Puluhan ribu orang terpaksa pindah karena topan Freddy mendarat (pada tanggal 21 dan 24 Februari).

Hampir 400.000 orang diperkirakan terkena dampak di kedua negara karena hujan lebat, angin kencang, banjir, dan naiknya permukaan air. Hal ini menyebabkan kerusakan pada rumah, sekolah, rumah sakit, dan infrastruktur lainnya.

Laporan pada 1 Maret menunjukkan total 12.744 orang telah mengungsi di 25 pusat akomodasi di Inhambane, Gaza dan Sofala. Kebutuhan yang paling mendesak adalah tempat penampungan darurat, kesehatan, perlindungan, makanan dan Air, Sanitasi dan Kebersihan.

Jumlah ini berubah dengan cepat karena hujan terus berlanjut dan lingkungan tetap banjir.

Di Madagaskar, IOM bekerja sama dengan pemerintah dan mitra kemanusiaan untuk membantu hampir 80.000 orang yang terkena dampak.

IOM mendukung pengelolaan dan penilaian lokasi di 11 pusat akomodasi resmi di Mananjary. Lebih dari 37.000 orang saat ini mengungsi dengan lebih dari 14.000 rumah terkena dampak.

Topan menambah situasi kemanusiaan di Mozambik. Sedikitnya 1 juta orang mengungsi karena konflik di bagian utara negara itu.

Dengan kondisi ini, ditambah dengan banjir di Madagaskar dan Mozambik dikhawatirkan akan meningkatkan risiko penyakit seperti kolera dan malaria.

IOM telah memobilisasi sumber daya saat bekerja dengan pemerintah dan masyarakat untuk meminimalkan dampak topan terhadap masyarakat dan mata pencaharian. Organisasi ini telah memberikan bantuan puluhan ribu pusat akomodasi di kedua negara.

Di Mozambik, IOM terus memantau dan menilai dampak topan. Organisasi sedang melakukan penilaian dampak dan kebutuhan di semua provinsi yang terkena dampak melalui Displacement Tracking Matrix (DTM).

Selain itu, memberikan dukungan teknis dan logistik kepada pemerintah dalam pengelolaan pusat akomodasi sementara.

IOM juga lanjut mendukung komunikasi risiko dan keterlibatan masyarakat, serta melakukan pelatihan penyegaran Perlindungan dari Eksploitasi dan Pelecehan Seksual (PSEA).

IOM melakukan promosi kesehatan dan kebersihan saat negara menghadapi wabah kolera yang sedang berlangsung.

Exit mobile version