Namun, seberapa efektif program ini jika dilihat dari kacamata ilmiah dan kebijakan publik?
Tinjauan sistematis terhadap berbagai penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa MBG memiliki dampak positif yang nyata. Program ini terbukti berkontribusi pada (1) Perbaikan status gizi anak; (2) Penurunan risiko stunting; (3) Peningkatan konsentrasi dan motivasi belajar; (4) Pengurangan beban ekonomi keluarga.
Anak yang datang ke sekolah dengan perut kenyang cenderung lebih fokus, lebih aktif, dan memiliki peluang akademik yang lebih baik.
Temuan ini, menurut peneliti, konsisten dengan bukti global bahwa kecukupan gizi pada usia sekolah berkorelasi erat dengan perkembangan kognitif dan produktivitas jangka panjang. Lebih jauh, MBG tidak hanya berdampak pada anak.
Keterlibatan pelaku usaha mikro dan petani lokal dalam rantai pasok pangan sekolah menciptakan efek ekonomi berganda di tingkat komunitas.
Dalam kerangka kebijakan publik, ini menjadikan MBG bukan sekadar program bantuan sosial, melainkan instrumen pembangunan manusia dan ekonomi lokal.
Namun demikian, implementasi MBG di lapangan tidak luput dari berbagai kendala.
Daerah dengan kepemimpinan kuat, koordinasi lintas sektor yang baik, serta dukungan pemerintah daerah cenderung menunjukkan hasil yang lebih optimal. Sebaliknya, wilayah dengan infrastruktur terbatas, sistem distribusi yang lemah, dan pengawasan yang minim sering kali menghadapi masalah kualitas makanan, keterlambatan distribusi, hingga ketimpangan penerima manfaat. Isu paling krusial adalah keberlanjutan pendanaan.




