Senin, April 20, 2026
Beri Dukungan
redaksi@darilaut.id
Dari Laut
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Masuk
  • Daftar
  • Home
  • Berita
    • Laporan Khusus
    • Bisnis dan Investasi
    • Pemilu & Pilkada
    • Kesehatan
  • Eksplorasi
  • Kajian
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
    • Ide & Inovasi
    • Travel
  • Konservasi
    • Orca
    • Hiu Paus
    • Biota Eksotis
  • Cek Fakta
  • Iklim
  • Advertorial
  • Home
  • Berita
    • Laporan Khusus
    • Bisnis dan Investasi
    • Pemilu & Pilkada
    • Kesehatan
  • Eksplorasi
  • Kajian
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
    • Ide & Inovasi
    • Travel
  • Konservasi
    • Orca
    • Hiu Paus
    • Biota Eksotis
  • Cek Fakta
  • Iklim
  • Advertorial
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Dari Laut
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Home Kajian

Ini Adalah Garam

redaksi
19 Juni 2025
Kategori : Kajian
0
Filsafat Ilmu Kelautan Kontemporer—Bukan Sekadar Ngetik Data di Pantai

Dr. Gybert E. Mamuaya. FOTO: KOLEKSI PRIBADI

Oleh : Dr. Gybert E. Mamuaya (Ketua Local Project Implementation Unit – Marine Science Education Project (LPIU – MSEP) Unsrat 1988-1993)

Kakek temanku, seorang nelayan tua dari Rote, pernah berkata, “Kita bisa melupakan matahari, tapi tidak dengan garam—ia selalu pulang ke lidah, seperti omong kosong ke mulut politikus.”

Aku tertawa waktu itu. Tapi sekarang, setelah laut di kampung halamanku mulai tercemar sampah dan tangkap ikan semakin sulit, aku mengerti: garam bukan sekadar bumbu. Ia pengingat.

Di negeri maritim seperti Indonesia, garam adalah cermin. Kita punya 17.504 pulau, tapi garam dapur masih diimpor. Kita dijuluki “Negeri Bahari”, tapi banyak anak muda takut belajar berlayar. Kita dikelilingi air asin, tapi lebih hafal rasa McDonalds daripada ikan asin buatan nenek.

Ya, garam dan kesadaran yang menguap: Seperti ikan dalam cerita Wallace yang tak paham konsep “air”, kita sering lupa bahwa garam adalah warisan. Ia produk dari laut, matahari, dan kerja keras—tiga hal yang seharusnya menjadi DNA kita. Tapi lihatlah: tambak garam tradisional mati perlahan, digantikan pabrik yang mengeringkan laut dengan rakus. Kita kehilangan rasa, bukan di lidah, tapi di jiwa.

Apakah ada keseimbangan yang retak? Orang Bugis katanya sering bilang, “Takaran garam menentukan nasib satu keluarga.” Terlalu sedikit, ikan busuk sebelum sampai ke pasar. Terlalu banyak, tubuhmu memberontak dengan tekanan darah tinggi. Hidup di negeri maritim adalah soal menari di tepian: antara memanfaatkan laut dan menjaganya, antara tradisi dan kemajuan.

Halaman 1 dari 2
12Selanjutnya
Tags: Dr. Gybert E. MamuayaGaram
Bagikan5Tweet1KirimKirim
Previous Post

Bidang Ekologi UNG Peringkat 18 Nasional Versi SCImago Institutions Rankings

Next Post

Kapal Pesiar MV Heritage Adventurer Bawa 115 Wisman Untuk Melihat Hiu Paus di Gorontalo

Postingan Terkait

Setelah Ekosistem Hutan Runtuh Perlu Pemulihan Berbasis Bentang Alam

Bagaimana Negara-negara Berkembang Dapat Mengumpulkan Dana Untuk Mengatasi Krisis Iklim

10 Maret 2026
Dari Gorontalo ke Eropa, Tiga Mahasiswa FIP UNG Ikuti Erasmus+ di Trnava University

Dari Gorontalo ke Eropa, Tiga Mahasiswa FIP UNG Ikuti Erasmus+ di Trnava University

3 Maret 2026

Anak-Anak Pesisir Teluk Tomini di Era Digital

Siklon Senyar, Gajah di Pelupuk Mata dan Politik Ekologi Indonesia

AI dan Kerumunan

Ketika Dua Raksasa Paus Biru dan Hiu Paus Bertemu di Laut Tomini

Tulidu: Agar Motulidu, Harus Molu’udu

Kampung Nelayan Merah Putih di Gorontalo: Program Prioritas, Risiko Mercusuar

Next Post
Apa Itu Klirens Etik Penelitian?

Kapal Pesiar MV Heritage Adventurer Bawa 115 Wisman Untuk Melihat Hiu Paus di Gorontalo

TERBARU

Papan Informasi Wisata yang Buruk Dapat Merusak Citra Destinasi

BRIN Kembangkan Kapal Pengolah Sampah untuk Kawasan Pesisir dan Pulau Kecil

Banjir Rob Disertai Gelombang Tinggi Menghantam Banggai Laut

UNG Dorong Mahasiswa Lulus Tanpa Skripsi dengan Syarat Menghasilkan Karya Setara Tugas Akhir

Tuna Sirip Biru Terjual Rp 3,9 Juta Per Kilogram di Yilan Taiwan

Peneliti UNG Publikasikan Kompetensi Penerjemah di Jurnal Terindeks Scopus Q1

AmsiNews

REKOMENDASI

Topan Koto Melemah Menjadi Badai Tropis di Laut Cina Selatan, Vietnam Bersiap Evakuasi Penduduk

Gangguan Tropis Tumbuh di Utara Manokwari, Badai Agatha di Meksiko

Tim Pinisi Open Ship di Pulau Selaru

KKP Tangkap 2 Kapal Ikan dan 9 Rumpon Filipina di Laut Sulawesi

Jejak Kematian dan Kehancuran Akibat Banjir di KwaZulu-Natal, Afrika Selatan

Badai Tropis Trami Menewaskan 46 orang di Filipina

Kategori

  • Advertorial
  • Berita
  • Biota Eksotis
  • Bisnis dan Investasi
  • Cek Fakta
  • Eksplorasi
  • Hiu Paus
  • Ide & Inovasi
  • Iklim
  • Kajian
  • Kesehatan
  • Konservasi
  • Laporan Khusus
  • Orca
  • Pemilu & Pilkada
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
  • Travel
  • Video

About

  • Tentang
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Terms of Use
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Trustworthy News Indicators
Dari Laut

darilaut.id

Menginformasikan berbagai perihal tentang laut, pesisir, ikan, kapal, berita terkini dan lain sebagainya.

redaksi@darilaut.id
+62 851 5636 1747

© 2026 DARILAUT - Berita terbaru dan terkini hari ini - darilaut.id.

Selamat Datang Kembali

Masuk dengan Facebook
Masuk dengan Google+
Atau

Masuk Akun

Lupa Password? Mendaftar

Buat Akun Baru

Mendaftar dengan Facebook
Mendaftar dengan Google+
Atau

Isi formulir di bawah ini untuk mendaftar

Isi semua yang diperlukan Masuk

Ambil password

Masukan username atau email untuk mereset password

Masuk
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Home
  • Berita
  • Pemilu & Pilkada
  • Laporan Khusus
  • Eksplorasi
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
  • Biota Eksotis
  • Cek Fakta
  • Ide & Inovasi
  • Konservasi
  • Kajian
  • Kesehatan
  • Orca
  • Hiu Paus
  • Bisnis dan Investasi
  • Travel
  • Iklim
  • Advertorial

© 2026 DARILAUT - Berita terbaru dan terkini hari ini - darilaut.id.

This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.