Darilaut – Bibit Siklon Tropis 92S yang berada di Samudra Hindia berpotensi membawa hujan di wilayah Indonesia. Dampak tidak langsung terhadap kondisi cuaca ekstrem di wilayah Indonesia tersebut berupa hujan sedang – lebat di Sumatra Barat (Sumbar), pada Minggu (14/12).
Untuk kondisi perairan, menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), tinggi Gelombang kategori sedang (1,25 – 2,5 m) di wilayah Samudra Hindia barat Kepulauan Nias, Samudra Hindia barat Bengkulu hingga Lampung.
Kemudian di perairan barat Kepulauan Nias hingga Kepulauan Mentawai, perairan barat Bengkulu hingga Lampung, Selat Sunda bagian selatan, Samudra Hindia selatan Banten, dan perairan selatan Banten.
Tinggi Gelombang kategori tinggi (2,5 – 4,0 m) di wilayah Samudra Hindia barat Kepulauan Mentawai, kata BMKG.
Bibit Siklon Tropis 92S saat ini terletak di utara Siklon Tropis Bakung yang berada di dekat Kepulauan Cocos (Keeling).
Biro Meteorologi Australia (BOM) memperkirakan Bakung mungkin akan tetap menjadi siklon tropis selama beberapa hari.
Tekanan rendah tropis (Bibit Siklon Tropis 92S) di utara mungkin akan berinteraksi dengan Bakung pada awal pekan ini.
Kondisi ini menurut BOM dapat mengakibatkan ketidakpastian yang lebih tinggi dalam pergerakan selanjutnya.
BMKG mengatakan posisi Bibit Siklon Tropis 92S yang berdekatan dengan Siklon Tropis Bakung membuat konvektif seperti tertarik ke arah Siklon Tropis Bakung walaupun saat ini terpantau wilayah deep convection di sekitar masing-masing pusat sirkulasi.
Bibit Siklon Tropis 92S mulai terbentuk pada 10 Desember 2025 di wilayah Samudra Hindia bagian tengah dan memasuki wilayah Area of Responsibility (AoR) Tropical Cyclone Warning Centre (TCWC) Jakarta pada 13 Desember 2025 pukul 07.00 WIB.
Pada Sabtu (13/12) pukul 19.00 WIB 92S dengan kecepatan angin maksimum di sekitar sistem yaitu 25 knot (46 km per jam) dan tekanan minimum sekitar 1006 hPa (hektopaskal).
Berdasarkan pengamatan citra satelit 6 jam terakhir menunjukkan adanya peningkatan aktivitas konvektif yang ditandai dengan munculnya wilayah deep convection yang semakin meluas dengan suhu puncak awan yang sempat mencapai -100°C dan wilayah dense overcast di sekitar sistem, kata BMKG.
Berdasarkan data ASCAT angin maksimum terpantau berada di kuadran barat laut hingga timur laut sistem.
Analisis angin per lapisan menunjukkan sirkulasi yang melebar ke arah tenggara pada lapisan permukaan hingga menengah dan sirkulasinya cenderung tertarik menuju Siklon Tropis Bakung di dekat jalurnya.
Pada lapisan atas tidak terpantau adanya divergensi ditunjukkan oleh angin yang cukup kencang.
Menurut BMKG, Bibit Siklon Tropis 92S didukung oleh aktifnya gelombang Equatorial Rossby, Kelvin, gelombang low frequency, dan MJO di sekitar system.
Suhu permukaan laut yang cukup hangat (28–29°C), wind shear dalam kategori sedang (20 knot), serta vortisitas yang mendukung di setiap lapisan.
Adapun kondisi yang kurang mendukung pertumbuhan sistem yaitu adanya intrusi udara kering yang bergerak menuju sistem, dan divergensi lapisan atas yang masih lemah.
Prediksi BMKG, dalam 24 jam ke depan intensitas Bibit Siklon Tropis 92S intensitasnya diprakirakan mengalami penurunan.
Hal ini ditandai dengan kecepatan angin yang melemah dan sirkulasi makin melebar ke arah selatan. Selain itu, pengaruh siklon tropis Bakung yang berada didekatnya.
Bibit 92S diprakirakan bergerak ke arah tenggara. Dalam 48 – 72 jam ke depan intensitas sistem diprakirakan akan terus melemah seiring dengan sirkulasinya yang semakin sulit teridentifikasi dan hanya berupa belokan angin karena interaksinya dengan siklon tropis Bakung.
Potensi Bibit Siklon Tropis 92S untuk berkembang menjadi siklon tropis dalam 24 – 72 jam ke depan dalam kategori peluang Rendah, kata BMKG.
