Blood Moon, Fenomena Gerhana Bulan Total yang Memerah

Blood moon (Bulan darah) terlihat saat gerhana bulan penumbra di Santiago, pada 15 Mei 2022. FOTO: MARTIN BERNETTI/AFP/SPACE.COM

Darilaut – Sejumlah daerah di Asia, Australia, Afrika,  dan Eropa menyaksikan Gerhana Bulan Total (GBT). Gerhana Bulan Total kali ini biasa juga disebut Blood Moon atau Bulan merah darah.

“Alih-alih menjadi gelap saat GBT, purnama berubah warna jadi memerah,” kata Prof. Thomas Djamaluddin, Peneliti Ahli Utama BRIN bidang Astronomi dan Astrofisika.

“Hanya cahaya merah yang mencapai Bulan karena warna lain telah dihamburkan oleh atmosfer bumi.”

Hanya Indonesia dan negara-negara di Asia tenggara dan timur yang dapat menyasikan secara penuh rangkaian Gerhana Bulan Total. Lainnya hanya menyaksikan  Gerhana Bulan Total saat proses awal atau proses akhir. Sementara benua Amerika tidak dapat mengamatinya karena di benua Amerika saat itu siang hari.

Fenomena astronomi langka menyapa langit Indonesia pada malam tanggal 7– 8 September 2025. Kejadian ini terjadi ketika Bumi tepat berada di antara Matahari dan Bulan saat purnama. Bayangan Bumi sepenuhnya menutupi permukaan purnama dan memunculkan rona merah yang dramatis.

Menurut data ilmiah, fenomena ini disebut GBT yang berlangsung sekitar 82 menit, salah satu yang terlama dalam dekade ini. 

Prof. Thomas menjelaskan bahwa fenomena Bulan Merah Darah disebabkan oleh pembiasan cahaya Matahari melalui atmosfer Bumi, yang menyaring cahaya biru dan memungkinkan gelombang merah yang lebih panjang membias ke bulan. 

Gerhana ini dapat disaksikan secara langsung dari seluruh wilayah Indonesia, menjadikannya kesempatan sempurna untuk mengamati langit malam tanpa alat khusus.

“Gerhana ini bisa terlihat tanpa bantuan alat, hanya dengan mata telanjang kita sudah bisa menikmatinya. Tentu saja bila ada teleskop dan kamera akan lebih baik lagi untuk mengabadikannya,” ujarnya.

Fenomena Gerhana Bulan Total ini terbagi menjadi beberapa fase: fase penumbral (bayangan lembut yang tidak tampak jelas), gerhana sebagian, dan gerhana total, lalu kembali ke fase gerhana sebagian dan penumbral.

Setiap tahapan menawarkan nuansa visual yang berbeda dan sangat memukau bagi pengamat langit.

Selain keindahan visual, Gerhana Bulan Total juga memiliki dimensi edukatif. Thomas mendorong masyarakat untuk memanfaatkannya sebagai bahan belajar astronomi. Keteraturan orbit bulan mengitari bumi dan bumi bersama bulan mengitari matahari yang memungkinkan prakiraan waktu kejadian gerhana.

“Ini bukan sekadar tontonan, tetapi momentum untuk mengenal mekanika benda langit, orbit Bulan, dan konfigurasi Bumi-Matahari-Bulan,” ujarnya. Selain itu, kata Thomas, kelengkungan bayangan bumi di bulan membuktikan bumi yang bulat. ”Bukan datar.”

Exit mobile version