Pada periode 24–27 September 2026, suhu maksimum lebih dari 37,0°C tercatat di Kalimantan Selatan, Lampung, Jawa Tengah, dan Sulawesi Barat.
Kondisi suhu udara yang tinggi dan kelembaban atmosfer yang relatif rendah dapat mempercepat proses penguapan serta meningkatkan potensi dehidrasi dan risiko kebakaran hutan dan lahan, kata BMKG.
Potensi kebakaran hutan dan lahan masih perlu diwaspadai, terutama di wilayah yang mengalami periode kering berkepanjangan dan memiliki jumlah titik panas yang relatif tinggi.
Kondisi cuaca di sebagian besar wilayah Indonesia diprakirakan masih dipengaruhi oleh El Niño dengan intensitas sangat kuat, di akhir September hingga awal Oktober 2026.
Menurut BMKG hal ini tercermin dari nilai Southern Oscillation Index (SOI) yang berada di angka -20,4 dan indeks Niño 3.4 sebesar +2,63.
Pada saat yang sama, nilai rata-rata mingguan Dipole Mode Index (DMI) sebesar +0,935 menunjukkan kecenderungan berkurangnya suplai uap air dari Samudra Hindia menuju wilayah Indonesia bagian barat.
Seiring menguatnya kondisi kering, BMKG mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah untuk menghemat penggunaan air serta meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan.
BMKG meminta masyarakat tidak membakar sampah atau membuka lahan secara sembarangan, terutama di kawasan yang mudah terbakar seperti lahan gambut, semak belukar, dan hutan, serta segera melaporkan jika menemukan indikasi titik api.



