Tidak hanya itu, menurut BMKG, dinamika atmosfer di wilayah Indonesia juga dipengaruhi oleh sistem tekanan rendah yang berada di Samudra Hindia barat daya Lampung, serta sirkulasi siklonik yang terbentuk di Laut Sulu, Perairan Utara Papua, dan Kalimantan Barat.
Sistem-sistem ini membentuk daerah perlambatan kecepatan (konvergensi) dan pertemuan angin (konfluensi) memanjang di Samudra Hindia barat daya Lampung, dari Kalimantan Barat hingga Kalimantan Tengah, Pesisir Kalimantan Timur, dan di Pesisir utara Papua.
Kondisi tersebut dapat meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sekitar sirkulasi siklonik maupun di sepanjang daerah konvergensi atau konfluensi tersebut.
Sebelumnya, periode 20–23 Februari 2026, BMKG mencatat kejadian hujan dengan intensitas sangat lebat hingga ekstrem di sejumlah wilayah Indonesia.
Hujan dengan intensitas ekstrem tercatat di DK Jakarta (179,7 mm/hari) dan Jawa Barat (168,5 mm/hari).
Selain itu, hujan dengan intensitas sangat lebat juga tercatat di Nusa Tenggara Timur (127,7 mm/hari), Banten (111,6 mm/hari), dan Sulawesi Selatan (101,0 mm/hari).
Pada periode yang sama, hujan dengan intensitas ringan hingga lebat juga masih terjadi di berbagai daerah lain, menunjukkan bahwa hujan masih mendominasi di sebagian wilayah dengan intensitas yang bervariasi.




