BRIN dan Unpatti Perkuat Riset Kelautan

Perairan Maluku. FOTO: DARILAUT.ID

Darilaut – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Universitas Pattimura (Unpatti) terus meningkatkan kerjasama dan kolaborasi berkaitan dengan riset bidang kelautan.

Riset dan inovasi pemanfaatan serta eksplorasi sumber daya hayati laut menjadi bagian dari usaha bersama dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat, mengingat begitu luasnya wilayah dan potensi sumber daya laut yang dimiliki Indonesia.

Salah satu yang dapat mendorong riset kelautan ini dengan adanya pelimpahan Barang Milik Negara (BMN) kepada Perguruan Tinggi dalam hal ini Unpatti.

“Semoga bermanfaat meningkatkan riset dan inovasi bidang kelautan di tanah air, dan dengan kehadiran Unpatti yang makin kuat di bidang kelautan, diharapkan juga menjadikan peneliti BRIN yang berada di Ambon sekitarnya akan semakin meningkatkan produktivitasnya,” kata Pelaksana Tugas Sekretaris Utama BRIN Rr Nur Tri Aries Suestiningtyas.

Pelimpahan BMN ini diawali dengan penandatanganan Berita Acara Serah Terima (BAST) dokumen Kapal Riset Baruna Jaya VII dan 2 kendaraan bermotor roda 4 kepada Rektor Unpatti M. J. Saptenno, Jumat (5/11) di Jakarta.

Menurut Nur Tri Aries, kolaborasi yang baik ini tentunya perlu untuk terus ditingkatkan. Nantinya melalui Direktorat Pengelolaan Armada Kapal Riset akan ada penambahan 6 kapal riset baru, yang akan terealisasi tahun 2024.

Intinya, kata Nur Tri Aries, ini merupakan sarana mendorong riset eksploratif dan layanan kemitraan riset baik dalam maupun luar negeri, sehingga output yang dihasilkan menjadi bukti dan kontribusi riset kelautan untuk menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia.

Rektor Unpatti Saptenno mengatakan ujung tombak keunggulan akademik Unpatti dalam bidang kelautan dan perikanan. Dengan adanya tambahan fasilitas sarana tersebut akan sangat membantu mahasiswa dalam kegiatan praktik lapangan.

Saptenno mengharapkan dukungan dari BRIN dalam membantu kegiatan di bidang kelautan. Unpatti membutuhkan sarana dan prasarana yang memadai untuk menjadikan dan menghasilkan riset dan inovasi yang lebih unggul, kerja sama penelitian laut dalam ini sangat penting untuk pembangunan Indonesia dan kemajuan khususnya di Maluku.

Sementara itu, Balai Bio Industri (BBIL), Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Kebumian – BRIN menyelenggarakan fungsi penerapan dan pengembangan teknologi budidaya dan pasca panen biota laut, termasuk biota laut.

Untuk menunjang pelaksanaan fungsi tersebut, BRIN melengkapi fasilitas berupa Gedung Balai Bio Industri Laut yang diresmikan oleh Kepala BRIN, Laksana Tri Handoko di Lombok Rabu (3/11).

“BBIL merupakan salah satu unit riset di BRIN yang memiliki keunikan sebagai Center of Excellence pengembangan produk dari sumber daya laut Indonesia,” kata Handoko.

Pembangunan secara total laboratorium dan fasilitas riset di BBIL ini diharapkan dapat memicu inovasi produk laut melalui riset terkini. Ke depan BBIL diharapkan dapat menjadi pusat dan acuan tidak hanya bagi riset nasional tetapi juga regional dengan penambahan SDM unggul berkualifikasi tinggi di bidangnya.

Kepala Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Kebumian BRIN, Ocky Karna Radjasa mengatakan, hasil-hasil kajian budidaya dan pasca panen biota laut yang dikembangkan oleh BBIL sebagian telah siap untuk dimanfaatkan dan dikembangkan di masyarakat.

BBIL diharapkan dapat menjadi media transfer teknologi khususnya di bidang budidaya dan pasca panen biota laut yang dapat dimanfaatkan untuk mendorong perkembangan dunia perikanan dan kelautan Indonesia, khususnya di wilayah NTB. Hal ini yang melatarbelakangi dibangunnya fasilitas gedung Balai Bio Industri Laut.

Menurut Kepala Balai Bio Industri Laut BRIN, Ratih Pangestuti, fasilitas ini juga dapat dimanfaatkan sebagai salah satu upaya sosialisasi guna meningkatkan kerjasama antara Balai Bio Industri Laut dengan seluruh stakeholder terkait di masa yang akan datang.

“Selain itu, melalui kegiatan peresmian fasilitas ini, BRIN dapat memperoleh tanggapan dan masukan dari para pemangku kepentingan di lingkungan pemerintah daerah, akademisi, instansi terkait dan masyarakat umum dalam pengembangan peran Balai Bio Industri Laut ke depan,” kata Ratih.

Sejak berdiri tahun 1997 hingga 2020, BBIL telah dan sedang melakukan kegiatan pengembangan dan penerapan teknologi budidaya berbagai biota laut ekonomis penting.

Seperti sotong buluh (Sepioteuthis lessoniana), tiram mutiara (Pinctada maxima), teripang hitam (Holothuria atra), abalon tropis (Haliotis asinina), siput mata bulan (Turbo chrysostomus), teripang pasir (Holothuria scabra), lobster karang (Panulirus spp.), dan makroalga laut hijau (Ulva lactuca).

Selain itu, dikembangkan juga produk diversifikasi pangan dari biota laut seperti produk olahan teripang dan makroalga laut hijau (Ulva lactuca).

Exit mobile version