Kedua, sambungnya, peran lembaga riset pemerintah dan perguruan tinggi dalam mengembangkan riset dan inovasi agar termanfaatkan oleh pihak industri swasta besar. Ketiga adalah memfasilitasi co-development teknologi maju dari luar yang masuk ke Indonesia memungkian untuk transfer of technology lebih cepat.
“Pangan, energi, kesehatan, serta aspek lingkungan berperan dalam meningkatkan perekonomian negara. Misalnya fasilitas towing tank yang ada di Pusat Riset Teknologi Hidrodinamika (PRTH) dan Genomic Laboratorium BRIN di Cibinong adalah fasilitas tercanggih se-Asia Tenggara.”
Dia menegaskan, BRIN tidak bisa sendiri, harus berkolaborasi, dan tema-tema SDGs ini menjadi penting bagaimana dalam bidang genomik, saatnya untuk menghasilkan varietas-varietas unggul yang bisa meningkatkan produktivitas pangan.
“Kita saatnya harus hadir dengan berbagai terobosan, teknik-teknik kekinian yang bisa menyelesaikan berbagai persoalan di bidang pangan ini.”
Ia menekankan perlunya konsolidasi riset secara vertikal dan horizontal. Secara horizontal, riset-riset yang ada di BRIN dan yang ada di perguruan tinggi harus mulai didorong agar proses hilirisasi untuk memperkuat kepentingan policy di tingkat kementerian maupun di antara industri.
“Kita juga harus konsolidasi secara vertikal agar riset-riset di daerah bisa tumbuh melalui BRIDA. Oleh karena itu, saya juga ingin mengajak perguruan tinggi yang ada di tiap provinsi ini. Selain mengembangkan science technopark masing-masing, kita perlu berkolaborasi dengan BRIDA agar semakin produktif dalam hilirisasi inovasi.”




