Masyarakat juga menetapkan kawasan hutan bakau keramat baru yang dilindungi di bawah sistem tata kelola adat, sementara kaum perempuan mendapatkan pelatihan produksi garam tenaga surya untuk mengurangi ketergantungan mereka pada kayu bakau.
Dengan memanfaatkan pengetahuan adat, inisiatif ini membantu melindungi lebih dari 530 hektare hutan bakau.
Selain pemulihan, proyek ini juga mengembangkan mekanisme pendanaan karbon biru yang dapat menghasilkan pendapatan jangka panjang untuk konservasi sekaligus mendukung masyarakat setempat.
Kerja Sama Regional
Proyek Pelaksanaan Program Aksi Strategis untuk Laut Tiongkok Selatan dan Teluk Thailand (SCS SAP)—yang dipimpin oleh UNEP dan didanai oleh Global Environment Facility—menyatukan Kamboja, Tiongkok, Indonesia, Filipina, Thailand, dan Vietnam untuk memulihkan serta mengelola ekosistem pesisir yang kritis secara berkelanjutan.
Program ini mendukung penetapan 57.400 hektare hutan bakau sebagai kawasan lindung, perencanaan pengelolaan untuk tambahan 166.600 hektare, reformasi pemanfaatan berkelanjutan yang mencakup 602.800 hektare, serta pemulihan dan penanaman pengayaan berskala besar.
Program ini juga berjalan beriringan dengan upaya pemulihan terumbu karang, padang lamun, dan lahan basah, dengan menyadari bahwa ekosistem pesisir yang sehat saling terhubung satu sama lain.




