Darilaut – Upaya pemulihan hutan mangrove (bakau) secara global menunjukkan bahwa upaya konservasi berbasis sains yang dipimpin oleh masyarakat setempat membuahkan hasil.
Namun, kemajuan di masa depan akan bergantung pada investasi yang berkelanjutan, pengelolaan yang lestari, dan perlindungan jangka panjang.
Melansir Unep.org, contoh-contoh dari Kenya, Kosta Rika, Benin, dan Vietnam menunjukkan bagaimana sains, pengelolaan berbasis masyarakat, pendanaan inovatif, dan kerja sama internasional membantu salah satu ekosistem pesisir paling berharga di dunia untuk bangkit kembali secara luar biasa.
Restorasi Jangka Panjang
Kenya Marine and Fisheries Research Institute (KMFRI)—dengan dukungan Program Lingkungan PBB (UNEP) dan International Coral Reef Initiative (ICRI)—meletakkan dasar ilmiah untuk restorasi berskala besar dengan memetakan ekosistem mangrove dan lamun serta menghasilkan data ekologis dasar sebagai acuan bagi upaya konservasi di masa depan, di kawasan perairan Lamu, Kenya.
Proyek ini juga melatih 50 anggota masyarakat dalam penilaian dan restorasi karbon biru, menyusun panduan teknis untuk restorasi mangrove dan identifikasi spesies, serta mendukung pengembangan pedoman restorasi nasional.
Melanjutkan upaya tersebut, sebuah inisiatif karbon biru yang lebih besar—yang dijalankan oleh proyek Go Blue dengan pendanaan Uni Eropa—kini mengelola hampir 5.000 hektare mangrove melalui kegiatan restorasi, pencegahan deforestasi, dan peningkatan pengelolaan hutan. Proyek ini juga telah memajukan upaya pengembangan mekanisme pendanaan karbon biru yang berkelanjutan.




