Darilaut – Gunung Anak Krakatau memasuki periode aktivitas erupsi berkelanjutan pada 4 September 2026 yang berlangsung selama sekira 25 jam.
Anak Krakatau adalah gunung berapi aktif di Selat Sunda, di antara Pulau Jawa dan Sumatra.
Citra yang ada dalam gambar, dihasilkan menggunakan data dari satelit Copernicus Sentinel-5P pada 6 September 2026, memperlihatkan peningkatan konsentrasi sulfur dioksida (SO₂) yang terkait dengan erupsi tersebut.
Awan gas dan abu membentang sejauh ratusan kilometer ke arah barat di atas Samudra Hindia, dengan konsentrasi lebih tinggi divisualisasikan dalam nuansa warna merah.
Kemampuan pemantauan atmosfer Copernicus Sentinel-5P mendukung deteksi dan pelacakan emisi gas serta abu vulkanik—yang merupakan bahaya bagi keselamatan penerbangan—serta mendukung penilaian kualitas udara dan studi iklim.
Satelit Copernicus Sentinel-2 juga berhasil menangkap citra letusan Gunung Anak Krakatau. Rekaman kolom erupsi tersebut membubung hingga ketinggian sekitar 15 km, tulis dari Copernicus Eropa melalui akun X @CopernicusEU.
Satelit Sentinel-2 berhasil merekam letusan tersebut selama dua detik dari atas Gunung Anak Krakatau pada tanggal 5 September.

Gunung Anak Krakatau yang terletak di perairan Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, kembali meletus pada Rabu (9/9) dini hari.




