Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Ardhi Adhary Arbain, mengatakan, PM2.5 merupakan partikel berukuran sangat kecil yang dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan.
Karena ukurannya, partikel ini menjadi salah satu perhatian penting dalam persoalan kualitas udara.
”Ketika terbawa angin melintasi wilayah negara, persoalan tersebut berkembang menjadi polusi lintas batas atau transboundary PM2.5,” ujar Ardhi, Jumat (2/10).
Untuk memahami bagaimana polutan tersebut bergerak, Ardhi menggunakan WRF-Chem, yaitu model atmosfer yang menggabungkan simulasi kondisi meteorologi dengan proses kimia di atmosfer. Data emisi dari berbagai sumber dimasukkan ke dalam model bersama informasi meteorologi untuk mensimulasikan penyebaran dan perubahan polutan di atmosfer.

Titik Panas
Cuaca panas dan kering masih berlangsung di sebagian besar wilayah Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat selama periode 16–19 Oktober 2026, perkembangan titik panas (hotspot) menunjukkan jumlah yang fluktuatif dengan kecenderungan meningkat, terutama di Kalimantan.
Berdasarkan pemantauan BMKG 19 Oktober 2026, jumlah hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi di Kalimantan Tengah melonjak dari 157 menjadi 937 titik, Kalimantan Barat dari 31 menjadi 231 titik, dan Sumatera Selatan dari 19 menjadi 66 titik dibandingkan hari sebelumnya. Peningkatan juga terpantau di Jawa Timur dari 10 menjadi 36 titik.



