Darilaut – Aliran lava telah mengubah bentuk Gunung Anak Krakatau yang terletak di Selat Sunda, antara Pulau Jawa dan Sumatra.
Citra Copernicus Sentinel-2 menampilkan perubahan bentuk Gunung Anak Krakatau tersebut sebelum dan setelah letusan menerus 25 Jam antara tanggal 4 dan 6 September 2026.
Letusan tersebut menghasilkan aliran lava yang mengarah ke barat laut, barat, dan barat daya dari lubang kawah yang aktif. Material vulkanik baru tersebut mengubah bentuk sektor barat pulau.
Citra Copernicus Sentinel-2 seperti yang ada di gambar, diambil pada tanggal 8 Agustus (kiri) dan 20 September 2026 (kanan). Citra satelit ini memperlihatkan kondisi pulau sebelum dan sesudah letusan.
Citra pertama 8 Agustus, endapan vulkanik berwarna cokelat muda menutupi sebagian besar badan kerucut gunung api.
Citra kedua 20 September, endapan lava luas berwarna merah kecokelatan gelap membentang di sektor selatan dan barat.
Selain itu, terdapat material baru di sepanjang garis pantai telah menambah luas daratan pulau tersebut sekitar 0,2 km².
Data Copernicus Sentinel-2 mendukung pemantauan pulau vulkanik dan perubahan permukaan yang cepat, serta membantu memetakan sebaran endapan lava, menilai perubahan bentuk lahan vulkanik, dan memantau perkembangan letusan yang sedang berlangsung.
Copernicus Sentinel-2 terdiri dari dua satelit yang mengorbit secara polar dan ditempatkan pada orbit sinkron-matahari yang sama, dengan perbedaan fase sebesar 180°.
Misi ini bertujuan untuk memantau perubahan kondisi permukaan lahan. Satelit-satelit ini memiliki lebar cakupan (swath width) yang luas (290 km) dan frekuensi kunjungan ulang (revisit time) yang tinggi. Kemampuan ini akan mendukung pemantauan perubahan di permukaan Bumi.
Analisis Badan Geologi
Analisis awal Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) perluasan Gunung Anak Krakatau setelah erupsi menerus dengan luas 32.8 hektare.
Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi, Dr. Siti Sumilah Rita Susilawati, mengatakan, berdasarkan citra satelit Sentinel yang telah dievaluasi Badan Geologi, terlihat penambahan daratan pada tubuh Gunung Anak Krakatau di sektor barat laut – barat – barat daya.
Hal ini sebagai akibat pengendapan material piroklastik dan aliran lava hasil erupsi menerus tanggal 4 – 6 September 2026.
“Badan Geologi menghitung penambahan luasan sebesar 32,8 ha,” ujar Rita, melalui akun X @badangeologi_.
Berdasarkan Citra Sentinel juga terdekteksi adanya “gumuk pulau kecil” di sebelah barat laut dan tenggara dari tubuh Gunungapi Anak Krakatau.
Kemunculan “kedua pulau” tersebut diduga berkaitan dengan erupsi menerus selama sekitar 25 jam, kata Rita.
Interpretasi sementara, menurut Rita, magma encer yang keluar pada saat erupsi menerus mencapai permukaan melalui jalur bukaan yang memanjang dari barat laut ke tenggara, sehingga material erupsi membentuk daratan di lokasi lain yang terlihat dalam bentuk dua gumuk seperti pulau.
Pertumbuhan Tidak Simetris
Hasil penelitian mencatat bahwa pertumbuhan Gunung Anak Krakatau tidak berlangsung secara simetris. Gunung ini berdiri di tepi kaldera bawah laut dengan tingkat kemiringan yang berbeda pada setiap sisinya.
Sektor barat daya berkembang di atas lereng kaldera yang lebih curam, sementara bagian timur laut bertumpu pada dasar laut yang relatif lebih dangkal. Perbedaan kondisi dasar tersebut menyebabkan kedua sektor mempunyai karakter kestabilan yang berbeda.
Tubuh Anak Krakatau juga tersusun dari material dengan sifat fisik berbeda. Pada fase awal pertumbuhan, interaksi magma dengan air laut menghasilkan endapan tuf yang relatif ringan dan berpori.
Setelah sekitar 1960, ketika aktivitas lebih didominasi erupsi Strombolian – Vulcanian, lava yang lebih padat mulai menumpuk di atas endapan tuf tersebut.
Penumpukan lava yang lebih berat di atas material yang lebih ringan, ditambah posisi sektor barat daya di atas lereng kaldera yang curam, secara bertahap meningkatkan beban tubuh gunung dan berkaitan dengan ketidakstabilan lereng. Kondisi inilah yang menjadi bagian penting dalam memahami evolusi morfologi Anak Krakatau.
Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Dini Nurfiani, Senin (21/9) mengatakan bahwa perjalanan Anak Krakatau menunjukkan bahwa memahami gunung api tidak cukup hanya dengan melihat satu kejadian erupsi. Perubahan sistem magma, material penyusun, bentuk tubuh gunung, gaya erupsi, hingga kondisi lingkungan saling berkaitan dan dapat berubah dari waktu ke waktu.
“Catatan erupsi Anak Krakatau memperlihatkan bahwa perilaku gunung api tidak selalu tetap, tetapi dapat berubah mengikuti perkembangan tubuh gunung, sistem magma, dan kondisi lingkungannya,” ujar Dini, seperti dikutip dari Brin.go.id.
Proses yang berlangsung sejak Anak Krakatau muncul dari laut, tumbuh hingga ratusan meter, mengalami keruntuhan besar pada 2018, kemudian kembali membangun kerucutnya hingga 2026 menjadi bagian penting untuk memahami evolusi gunung api tersebut.
Lahir 1927
Setelah letusan besar Gunung Krakatau tahun 1883, Anak Krakatau lahir pada 1927 dan hingga kini menjadi bagian aktif dari sistem Krakatau, dengan kedalaman penyimpanan magma lebih dari 7 km.
Sejarah geologi, sistem Krakatau diketahui telah mengalami sedikitnya dua caldera-forming eruption atau letusan pembentukan kaldera, yakni sekitar abad ke-5 atau 6 dan pada 1883 M.
Salah satu peristiwa terbesar terjadi pada 27 Agustus 1883 ketika letusan mencapai Daya Ledak Vulkanik 6 dan memicu tsunami yang menyebabkan lebih dari 36.000 korban jiwa di kawasan Selat Sunda.
Tercatat pula perubahan estimasi kedalaman dapur magma. Pada Old Krakatau, tekanan penyimpanan magma diperkirakan sekitar 14–72 MPa, setara dengan kedalaman sekitar 0,6–2,9 kilometer. Young Krakatau berada pada kisaran 26–84 MPa atau sekitar 1,1–3,4 kilometer.
Sementara itu, Anak Krakatau menunjukkan tekanan yang jauh lebih tinggi, yakni 185–665 MPa, yang diperkirakan berkaitan dengan kedalaman sekitar 7,4–26,6 kilometer.
”Setelah letusan besar 1883, Anak Krakatau lahir pada 1927 dan hingga kini menjadi bagian aktif dari sistem Krakatau,” kata peneliti Ahli Pusat Riset Kebencanaan Geologi (PRKG) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Aditya Pratama, dalam Geohazard Webinar 2026 #05, Senin (14/9).
