Darilaut – Hanya dalam sehari, gempa bumi sangat kuat mengguncang Indonesia, yang terletak di timur dan barat. Gempa dahsyat tersebut berada di laut dan darat dengan jarak sekira 3.000 km atau 1,9 ribu mil.
Gempa bumi pertama di laut berkekuatan magnitudo (M) 7,7 berada di dekat Flores Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8) pukul 04.58.24 WIB atau 05.58.24 Wita.
Selanjutnya, gempa bumi kedua terletak di darat Provinsi Sumatra Utara magnitudo (M) 6,4 pada Sabtu (15/8) sore. Gempa bumi Sabtu terjadi pukul 17.54 WIB.
Gempa NTT memicu tsunami yang terpantau di 10 titik pesisir. Jaringan observasi muka air laut (tide gauge) mencatat gelombang tsunami tiba di Reo Manggarai dan Manggarai Timur dengan ketinggian puncak mencapai 1,61 meter, Maurole Ende setinggi 0,94 meter, serta Bulukumba dan Sape Bima melampaui 0,5 meter. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengakhiri seluruh Peringatan Dini Tsunami pada pukul 07.30 WIB.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani menjelaskan bahwa gempa bumi ini tergolong jenis gempa bumi dangkal yang timbul akibat aktivitas sesar naik busur belakang Flores (Flores Back Arc Thrust).
Secara histori, struktur Flores Back Arc Thrust menyimpan rekam jejak gempa merusak yang panjang, termasuk gempa M7,8 pada kedalaman 28 km yang melanda kawasan tersebut pada tahun 1992.
Bedanya, gempa kali ini berpusat pada kedalaman yang jauh lebih dangkal (15 km), sehingga menimbulkan dampak kerusakan fisik yang relatif berat pada bangunan infrastruktur serta memicu tsunami yang terobservasi hingga pesisir Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara.
Adapun aktivitas gempa susulan terdistribusi di sebelah utara Pulau Flores dengan kisaran magnitudo M 2,5 hingga M 6,2. Grafik pemantauan mengindikasikan bahwa tren rekaman gempa susulan saat ini belum mengalami peluruhan yang signifikan.
Berdasarkan peta intensitas guncangan (intensity map), BMKG mencatat guncangan terbesar mencapai skala VII MMI di daerah Aesesa (Kabupaten Nagekeo), Riung (Kabupaten Ngada), Kota Ambai, serta hasil observasi langsung mikro di kawasan Manggarai dan Ruteng. Skala VI MMI terukur di Wolowae (Nagekeo) dan Kota Bajawa, sementara skala V MMI dirasakan di sejumlah kawasan sekitarnya.
The United States of Geological Survey (USGS) atau Survei Geologi Amerika Serikat menyebutkan gempa bumi Laut Flores berkekuatan M 7,7 pada Sabtu (15/8) pagi, terjadi di lepas pantai utara NTT akibat sesar naik di kedalaman dangkal.
Gempa bumi dahsyat terjadi di wilayah yang aktif secara seismik dan didominasi oleh konvergensi antara lempeng Australia dan lempeng Sunda.
Hingga Sabtu sore gempa bumi susulan terjadi lebih dari 250 kali.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat puluhan orang meninggal dunia di sejumlah wilayah d NTT, serta kerusakan sedikitnya 90 bangunan.
Gempa bumi kedua yang berlokasi di darat Sumatra Utara magnitudo (M) 6,4 terjadi pada Sabtu (15/8) sore.
Gempa bumi ini dirasakan kuat selama 30 detik di Kabupaten Simalungun, Kota Medan, dan Kabupaten Pakpak. Sementara di Kabupaten Tapanuli Tengah, gempa dirasakan kuat selama 10 detik.
Berdasarkan keterangan BMKG, episentrum gempa berada pada Lintang 2.97 LU dan Bujur 98.95 BT dengan kedalaman 163 kilometer. Pusat gempa berada di darat dan tidak berpotensi tsunami.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumatra Utara melaporkan gempa dirasakan di beberapa wilayah antara lain Kabupaten Simalungun, Kota Medan, Kabupaten Pakpak Bharat, dan Kabupaten Tapanuli Tengah.
USGS mencatat gempa M 6,9, terletak 15 km di sebelah utara-barat laut Pematangsiantar. Gempa berada di kedalaman 172,5 km.
Hasil analisis USGS secara otomatis melalui GeoNames lokasi terdekat Pematangsiantar, 15,3 km (9,5 mil), Pekan Bahapal – Simalungun 17,9 km (11,1 mil), Tebing Tinggi 31,6 km (19,6 mil), Parapat – Simalungun 47,9 km (29,8 mil) dan Medan 67,6 km (42 mil). (VM)
