Darilaut – The United States of Geological Survey (USGS) atau Survei Geologi Amerika Serikat menyebutkan gempa bumi Laut Flores berkekuatan magnitude (M) 7,7 pada Sabtu (15/8) pagi, terjadi di lepas pantai utara Nusa Tenggara Timur (NTT) akibat sesar naik (reverse faulting) pada kedalaman dangkal.
Gempa bumi dahsyat yang terjadi di dekat Ende tersebut, berlokasi di wilayah yang aktif secara seismik dan didominasi oleh konvergensi antara lempeng Australia dan lempeng Sunda.
USGS memperkirakan adanya kemungkinan korban jiwa dan kerusakan, dengan dampak yang diperkirakan relatif terlokalisasi.
Sekitar 1,5 juta orang merasakan (terpapar) guncangan kuat (Modified Mercalli Intensity VI) hingga sangat kuat (MMI VIII).
Gempa susulan, yang beberapa di antaranya berpotensi menimbulkan guncangan kuat, mungkin terjadi setelah gempa ini, kata USGS.
Menurut USGS mekanisme fokus menunjukkan bahwa pergerakan patahan terjadi pada sesar yang membentang ke arah barat dengan kemiringan sedang ke arah utara, atau sesar yang membentang ke arah timur dengan kemiringan landai ke arah selatan.
Lokasi, kedalaman, dan solusi awal mekanisme fokus gempa ini menunjukkan bahwa peristiwa tersebut kemungkinan besar merupakan akibat dari sesar naik di dalam lempeng Sunda yang berada di posisi atas (overriding plate).



