Darilaut – Presiden Majelis Umum PBB sesi ke-81, Khalilur Rahman, menyampaikan peringatan yang terasa sangat nyata dampaknya.
Di Kota New York, menurut Khalilur Rahman, permukaan laut diproyeksikan naik hingga 1,3 meter pada akhir abad ini, dan kenaikannya akan jauh lebih tinggi jika es Antartika mencair dengan cepat.
Hal itu cukup untuk mengubah Ruang Sidang Majelis menjadi “kolam rendam yang sangat besar,” katanya.
Perdana Menteri Godwin Friday dari Saint Vincent dan Grenadines mengatakan bahwa 85 persen penduduk dan 90 persen infrastruktur vital negaranya terkonsentrasi di sepanjang jalur pesisir yang sempit.
Ia berpendapat bahwa berinvestasi dalam ketahanan sejak dini memakan biaya jauh lebih rendah dibandingkan harus menanggung kerugian dan kerusakan di kemudian hari.
Perdana Menteri Francisco Carvalho dari Tanjung Verde (Cabo Verde)—negara yang turut memfasilitasi negosiasi deklarasi tersebut—mengatakan bahwa persetujuan melalui konsensus ini menunjukkan bahwa multilateralisme masih berjalan efektif.
Baginya, kenaikan permukaan laut “bukanlah ancaman yang jauh ataupun sekadar kekhawatiran teoretis,” melainkan masalah nyata bagi negaranya.
Bagi negara-negara kepulauan kecil, hal ini menyangkut pelestarian “identitas sejarah dan budaya yang berakar kuat pada daratan dan lautan,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa deklarasi tersebut mengakui isu ini sebagai masalah keadilan, hak asasi manusia, dan perdamaian.




