Menurut Fauzan, rekomendasi alternatif dari permasalah di Danau Tempe adalah dengan revitalisasi berbasis daya dukung ekosistem untuk mengembalikan fungsi habitat dengan mempertahankan atau memperluas genangan tidak permanen dan memperdalam genangan permanen sehingga ekosistem sektor perikanan terjaga.
Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Ruandha Agung Sudirman mengatakan, tantangan yang dihadapi terkait pengelolaan Danau Tempe adalah adanya peningkatan curah hujan akibat kecenderungan peningkatan suhu udara minimum dan maksimum sehingga mengakibatkan peningkatan banjir.
Selain itu, kata Ruandha, eutrofikasi akibat curah hujan yang tinggi akan mengurangi kesuburan habitat ikan dan kualitas air yang menurun serta perubahan pola rendaman mengakibatkan perubahan terhadap pengelolaan lahan dan perairan.
Airlangga Mardjono dari Direktorat Bendungan dan Danau, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat mengatakan, alih fungsi lahan di sekitar danau Tempe sebagai perumahan dan pertanian merupakan penyebab sedimentasi.
Menurut Airlangga, solusi untuk mengatasi masalah sedimentasi yang tinggi dan permukiman yang padat di danau Tempe adalah melalui dredging untuk menambah kapasitas danau dan sungai serta pembangunan bendungan di beberapa wilayah inflow Danau Tempe.





Komentar tentang post