Dasar Laut Indonesia Menyimpan Gas Hidrat, Energi Alternatif Masa Depan

GAMBAR: BRIN

Darilaut – Indonesia menyimpan potensi gas hidrat atau metana hidrat sebagai energi alternatif masa depan yang sangat besar di dasar laut. Potensi gas metana Indonesia mencapai lebih dari 800 Trillion Standard Cubic Feet (TSCF).

Penelitian yang telah dilakukan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan keberadaan metana hidrat di Indonesia telah teridentifikasi di beberapa wilayah melalui metode pemetaan geofisika, seperti survei seismik.

Beberapa lokasi yang telah dipetakan antara lain di bagian selatan Selat Sunda, serta wilayah utara dan selatan Selat Makassar.

Di tengah menurunnya produksi minyak dan gas bumi konvensional, metana hidrat dinilai memiliki prospek besar sebagai energi masa depan. Gas metana jumlahnya melimpah dan belum dimanfaatkan secara optimal.

Perekayasa Ahli Utama Pusat Riset Sumber Daya Geologi BRIN, Susilohadi menjelaskan bahwa potensi gas hidrat Indonesia diperkirakan mencapai lebih dari 800 TSCF. Jumlah ini jauh lebih besar dibandingkan cadangan gas alam konvensional Indonesia yang berkisar sekitar 345 TSCF.

Potensi tersebut tersebar di wilayah laut dalam, terutama di kawasan Indonesia Timur yang secara geologis masih sangat menjanjikan, kata Susilohadi, pada Rabu (22/4).

Menurut Susilohadi, metana hidrat merupakan bentuk gas metana yang terperangkap dalam struktur padat menyerupai es.

“Gas hidrat itu sebetulnya adalah zat padat seperti es. Artinya, gas metana yang bersatu dengan air,” kata Susilohadi mengutip Brin.go.id

Metana hidrat terbentuk secara alami pada kondisi suhu rendah dan tekanan tinggi di dasar laut, biasanya pada kedalaman lebih dari 500 meter. Meskipun berbentuk padat, kandungan metana di dalamnya sangat tinggi sehingga berpotensi menjadi sumber energi alternatif.

Namun, luasnya wilayah laut dalam Indonesia yang mencapai sekitar sepertiga dari total perairan nasional menunjukkan potensi sebenarnya masih sangat besar dan belum sepenuhnya terungkap.

GAMBAR: BRIN

Meski memiliki potensi besar, pengembangan metana hidrat masih menghadapi berbagai tantangan. Salah satu kendala utama adalah teknologi ekstraksi yang masih dalam tahap pengembangan dan membutuhkan biaya yang sangat besar.

Selain itu, keterbatasan infrastruktur riset juga menjadi hambatan dalam pengembangan sumber energi ini di Indonesia.

“Sampai saat ini kita belum bisa mengambil data primer terkait metana hidrat. Jadi, penelitian yang dilakukan masih memanfaatkan data seismik sekunder yang sudah ada,” ujarnya.

Susilohadi mengatakan pemerintah berencana akan memiliki kapal riset yang lebih memadai pada 2029. Sehingga, penelitian lebih mendalam kemungkinan baru dapat dilakukan sekitar 2030.

Pengembangan metana hidrat sebagai sumber energi tidak hanya membutuhkan teknologi tinggi, tetapi juga kerja sama internasional serta komitmen jangka panjang pemerintah.

Indonesia sendiri telah terlibat dalam kerja sama regional untuk mempelajari potensi dan dampak metana hidrat, baik dari sisi energi, lingkungan, maupun ekonomi.

Jika dikelola dengan baik, metana hidrat berpotensi menjadi salah satu solusi penting dalam menjaga ketahanan energi nasional di masa depan.

Dengan cadangan yang besar dan tersebar luas di perairan Indonesia, sumber energi ini dapat menjadi alternatif ketika cadangan energi fosil konvensional semakin menipis.

Exit mobile version