“Saya senang dengan lautnya Luwuk Banggai ini luar biasa. Mudah-mudahan besok saya turun ke laut, nanti sore juga sama bersihnya. Saya percaya dengan filosofi “Pinasa” (Pia Na Sampah, Ala/Lihat Sampah, Ambil), Luwuk ini pasti akan terjaga. Ini filosofi dan semboyan yang luar biasa. Liat sampah, pungut. Biasakan kita hidup peduli dengan lingkungan kita,” kata Susi.
Susi mengatakan, kita harus meninggalkan penggunaan botol plastik, sedotan plastik, kemasan-kemasan plastik, kresek. Biasanya Ibu-ibu bersahabat sekali dengan kresek, sekarang coba tinggalkan.
“Bapak Ibu bisa beralasan, toh plastiknya tidak saya buang ke laut. Tapi dibuang ke hutan. Sama saja. Itu di hutan menumpuk, nanti ketika tanahnya digali isinya plastik semua. Menghambat penyerapan air di tanah. Plastik itu tak akan terurai hingga ratusan tahun,” ujarnya.
Menurut Susi, laut di Luwuk Banggai yang sudah bersih harus dikelola dengan baik. Dengan demikian, pengelolaan sektor perikanan sekaligus pariwisata dapat dimaksimalkan.
“Saya berharap, Luwuk Banggai yang cantik dan bersih ini, bisa menjadi Monako-nya Indonesia,” katanya.
Susi mengimbau masyarakat untuk dapat memaksimalkan sumber penghasilan tak hanya di sektor perikanan tetapi juga sektor pariwisata.
“Kalau ikannya banyak, pariwisatanya indah, sumber uang Bapak Ibu juga lebih besar,” kata Susi.





Komentar tentang post