Darilaut – Dalam sepekan ke depan, kondisi cuaca di Indonesia masih dipengaruhi oleh dinamika atmosfer skala global, regional, dan lokal.
Hasil analisis Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menunjukkan ENSO (El Niño-Southern Oscillation) berada pada kategori netral hingga La Niña lemah.
Nilai SOI yang teramati sebesar +13,3 dan indeks NINO 3.4 sebesar -0,53 dinilai belum cukup signifikan dalam meningkatkan pola konvektif di wilayah Indonesia, sementara DMI sebesar +0,53 menunjukkan tidak adanya aliran udara signifikan dari Samudra Hindia timur Afrika menuju wilayah Indonesia bagian barat.
Meskipun demikian, analisis regional berdasarkan anomali OLR (Outgoing Longwave Radiation), MJO (Madden-Julian Oscillation), dan aktivitas gelombang ekuator mengindikasikan kecenderungan peningkatan aktivitas konvektif, terutama di wilayah Indonesia bagian tengah hingga timur, meliputi Nusa Tenggara Timur, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat, Papua Barat Daya, Papua, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan, kata BMKG.
BMKG mengatakan peningkatan aktivitas konvektif tersebut diprakirakan diperkuat oleh aktifnya MJO secara spasial pada 24–25 Maret 2026 di wilayah timur Indonesia, yang didukung oleh gelombang Rossby Ekuator, gelombang Kelvin, serta gelombang frekuensi rendah yang cenderung persisten.
Menurut BMKG kombinasi ketiga fenomena ini berpotensi semakin meningkatkan pertumbuhan awan hujan dan curah hujan, terutama di wilayah perairan dan daratan Indonesia bagian tengah hingga timur.
Di sisi lain, Ex-Siklon Tropis Narelle yang terpantau di pesisir barat Australia bagian utara masih memberikan pengaruh tidak langsung terhadap dinamika atmosfer di Indonesia, terutama meningkatkan kecepatan angin di wilayah Nusa Tenggara Timur, Laut Timor, dan sekitarnya, serta konvergensi dan konfluensi di perairan selatan Sulawesi dan Maluku bagian selatan hingga tenggara.
Sistem ini juga masih berpotensi kembali berkembang menjadi siklon tropis di Samudra Hindia selatan NTT.
Selain itu, sirkulasi siklonik diprakirakan muncul di Samudra Hindia barat Aceh dan Samudra Pasifik utara Papua, disertai sejumlah daerah konvergensi dan konfluensi yang membentang di sebagian wilayah Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.
Labilitas atmosfer lokal yang kuat juga masih terpantau di beberapa wilayah, termasuk Sumatra, Kalimantan, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Timur, dan Papua, sehingga kondisi ini berpotensi mendukung peningkatan pertumbuhan awan hujan dan cuaca signifikan di sejumlah wilayah.
Dengan mempertimbangkan dinamika atmosfer yang masih signifikan dalam beberapa hari ke depan, BMKG mengimbau masyarakat dan para pemangku kepentingan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat memicu bencana hidrometeorologi.
Kewaspadaan juga perlu ditingkatkan oleh para pengendara kendaraan bermotor terhadap potensi hujan lebat yang dapat disertai kilat dan/atau petir serta angin kencang, yang berpotensi mengganggu kelancaran perjalanan selama periode libur lebaran.
