Darilaut – Kampus perlu memiliki sistem pendampingan yang tidak hanya berfokus pada capaian akademik, akan tetapi memperhatikan kondisi mental dan emosional mahasiswa.
“Mahasiswa tidak cukup hanya didorong untuk berprestasi secara akademik, tetapi juga perlu dibantu agar memiliki resiliensi, kemampuan koping yang sehat, dan keberanian untuk mencari pertolongan ketika menghadapi masalah,” kata Dr. Ns. Yuniar Mansye Soeli, dosen Fakultas Olahraga dan Kesehatan Universitas Negeri Gorontalo (UNG).
Menurut Dr. Yuniar, peran Dosen Penasihat Akademik tidak lagi dipandang sebatas pengurus nilai akademik atau Indeks Prestasi Kumulatif (IPK), tetapi juga sebagai garda terdepan dalam melindungi kesehatan mental mahasiswa.
Yuniar yang juga dosen Keperawatan UNG memperkenalkan model NIAR. Model ini merupakan inovasi yang menerapkan empat langkah taktis, yaitu Nurturing Relationship, Identifying Suicide Ideation, Adaptive Coping Enhancement, dan Resilience.
Model NIAR menekankan pentingnya peran Dosen Penasihat Akademik dalam mendampingi mahasiswa secara lebih manusiawi, responsif, dan preventif. Model ini mendorong dosen untuk membangun hubungan yang suportif, mengenali tanda-tanda ide bunuh diri, memperkuat kemampuan koping adaptif, serta meningkatkan resiliensi mahasiswa.




