Penelitian ini mengangkat pendekatan komprehensif untuk memahami bagaimana mamalia laut herbivora tersebut turut memengaruhi dinamika penyimpanan karbon di laut.
Temuan awal menunjukkan bahwa dugong tidak hanya menjadi indikator kesehatan padang lamun, tetapi juga agen ekologis yang berperan dalam dinamika karbon di laut.
Jejak makan dugong turut mempengaruhi laju pertumbuhan lamun dan mempercepat proses siklus biomassa ke dalam sedimen.
Ini berpotensi meningkatkan penyimpanan karbon jangka panjang. “Peran dugong dalam ekosistem laut tidak hanya sebagai pemakan lamun, tapi juga sebagai penggerak proses ekologi yang lebih luas, termasuk dalam mitigasi perubahan iklim,” ujarnya.
Penelitian ini menunjukkan bahwa interaksi dugong dengan lamun berpotensi meningkatkan proses dekomposisi dan penyerapan karbon di sedimen, yang menjadikannya bagian dari solusi ekosistem terhadap perubahan iklim.
Tak hanya itu, dalam forum tersebut juga menyoroti potensi penggunaan DNA lingkungan. Tujuannya untuk mengestimasi populasi dugong serta integrasi studi genetika dalam rencana aksi nasional perlindungan spesies tersebut.
Mira menyimpulkan, rangkaian penelitian ini menunjukkan bahwa dugong bukan hanya bagian dari keanekaragaman hayati laut.
Tetapi, kata Mira, dugong berperan penting dalam stabilitas iklim melalui ekosistem pesisir. Dengan penelitian ini diharapkan dapat mendukung perumusan kebijakan konservasi berbasis sains, serta memperkuat integrasi karbon biru dalam agenda mitigasi perubahan iklim nasional.




