Dunia Menuju Kondisi Melampaui Ambang Batas 1,5°C

Hutan mangrove. FOTO: DARILAUT.ID

Darilaut – Laporan terbaru Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) menyebutkan pemanasan global diperkirakan akan melampaui ambang batas 1,5°C, sementara pendanaan untuk adaptasi masih jauh dari kebutuhan yang ada. Pelaksanaan adaptasi terkendala oleh hambatan kelembagaan, sementara kerugian dan kerusakan terus bertambah.

Kerugian dan kerusakan (losses and damages) terus meningkat di negara-negara berkembang, namun respons dan pendanaan yang tersedia masih belum memadai.

Kurangnya upaya mitigasi dan adaptasi yang kuat menyebabkan kerugian serta kerusakan akibat iklim—yang tetap dapat terjadi meskipun langkah-langkah adaptasi telah dilakukan—menjadi sangat besar.

Laporan tersebut menemukan bahwa pendanaan untuk menangani kerugian dan kerusakan masih jauh dari kebutuhan yang teridentifikasi, sementara prosedur yang rumit serta kapasitas yang terbatas membuat dukungan tersebut sulit untuk diakses.

Sebagai contoh, putaran pertama pendanaan untuk merespons kerugian dan kerusakan (Loss and Damage) menerima permintaan senilai US$2,8 miliar, jauh melampaui alokasi dana awal yang sebesar US$342 juta.

Hal ini menunjukkan adanya kebutuhan besar yang belum terpenuhi, meskipun besaran kesenjangan pendanaan global untuk kerugian dan kerusakan itu sendiri belum diketahui secara pasti.

Laporan tersebut menyimpulkan perlunya peningkatan kapasitas penilaian, dukungan finansial dan teknis yang memadai serta dapat diprediksi, prosedur akses yang lebih sederhana, dan partisipasi bermakna dari masyarakat yang terdampak dalam merumuskan respons terhadap kerugian dan kerusakan yang terjadi.

Meskipun pertumbuhannya masih jauh di bawah laju yang diperlukan untuk memenuhi Glasgow Climate Pact—yaitu menggandakan pendanaan dari tingkat tahun 2019 menjadi US$40 miliar pada tahun 2025—target tersebut masih mungkin untuk dicapai.

Bank Pembangunan Multilateral (MDB) kemungkinan telah meningkatkan pendanaan mereka secara signifikan pada tahun 2025; namun, pencapaian target ini akan bergantung pada apakah arus pendanaan adaptasi dari mitra pembangunan bilateral turut terdampak oleh penurunan bantuan pembangunan resmi (official development assistance).

Direktur Eksekutif UNEP, Inger Andersen, mengatakan dunia belum siap beradaptasi dengan kondisi iklim saat ini, apalagi menghadapi dampak yang akan muncul jika ambang batas 1,5°C terlampaui.

Pada konferensi iklim COP31 di Turki dan seterusnya, berbagai negara harus fokus mengintensifkan upaya untuk mencapai aspirasi COP30—yang dikenal sebagai Global Mutirão—untuk melipatgandakan pendanaan adaptasi pada tahun 2035. Mereka juga harus memahami bahwa pendanaan tersebut perlu ditingkatkan lebih jauh lagi demi menyelamatkan nyawa, mencegah kerugian dan kerusakan, serta melindungi perekonomian, kata Andersen.

Laporan Kesenjangan Adaptasi (Adaptation Gap Report) 2026 UNEP dengan judul Ready? menyatakan upaya adaptasi yang diperluas, efektif, dan didanai dengan baik akan sangat krusial untuk mengurangi risiko, memperkuat ketahanan, serta mendukung pembangunan yang lebih inklusif.

Akan tetapi, aliran pendanaan publik internasional untuk adaptasi dari negara maju ke negara berkembang masih jauh di bawah estimasi kebutuhan yang mencapai US$305 miliar per tahun pada 2035.

Bahkan jika aspirasi COP30 untuk melipatgandakan aliran pendanaan publik internasional bagi negara berkembang pada 2035 tercapai, jumlah tersebut hanya akan mencakup 20–29 persen dari kebutuhan mereka untuk menghadapi dampak iklim yang kian intens.

Arus pendanaan publik internasional untuk adaptasi dari negara maju ke negara berkembang mencapai US$28,2–31,7 miliar pada tahun 2024, meningkat US$1 miliar dibandingkan tahun sebelumnya.

Arus pendanaan ke negara-negara kurang berkembang (LDC) dan negara berkembang kepulauan kecil (SIDS) sempat meningkat secara riil antara tahun 2019 dan 2024, namun kini mengalami penurunan dari puncak yang dicapai pada tahun 2022—padahal seharusnya arus tersebut terus meningkat.

Berdasarkan penilaian terhadap kontribusi yang ditetapkan secara nasional (NDC), rencana adaptasi nasional (NAP), dan estimasi berbasis model, laporan ini memberikan perkiraan angka tengah kebutuhan pendanaan adaptasi bagi negara-negara berkembang sebesar kurang lebih US$305 miliar per tahun pada tahun 2035. Angka ini sebagian besar belum mencakup kebutuhan sektor swasta, yang dapat membuat jumlah tersebut meningkat hampir dua kali lipat.

Exit mobile version