Hasil pengamatan menunjukkan bahwa terumbu buatan telah dihuni komunitas ikan yang menyerupai terumbu karang alami hanya dalam waktu sekitar satu hingga tiga tahun setelah pemasangan.
Dibandingkan dasar laut berpasir yang rusak, keberadaan terumbu buatan mampu meningkatkan keanekaragaman ikan secara signifikan.
Terumbu buatan telah banyak dimanfaatkan sebagai salah satu upaya memulihkan ekosistem terumbu karang yang rusak.
Namun, efektivitasnya dalam mengembalikan fungsi ekosistem dan kehidupan bawah laut masih menjadi pertanyaan yang terus dikaji para peneliti.
“Penelitian jangka panjang merupakan kunci dalam menghasilkan rekomendasi ilmiah yang dapat mendukung pengelolaan ekosistem yang berketahanan iklim,” ujar Kepala Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA) BRIN, Albertus Sulaiman, seperti dikutip dari Brin.go.id.




