Ekosistem Terumbu Karang Mengalami Tekanan Berat, Tutupan Turun 50%

Kawasan Konservasi Laut

Ekosistem terumbu karang. FOTO: DARILAUT.ID

Darilaut – Ekosistem terumbu karang dunia mengalami tekanan berat sejak pertengahan abad ke-20. Hal ini akibat interaksi kompleks antara perubahan iklim dan aktivitas manusia.

Tutupan karang hidup secara global dilaporkan telah menurun hingga sekitar 50 persen, menurut Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Ekologi (PRE) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Taslim Arifin.

“Degradasi ini tidak hanya dipicu oleh satu faktor, tetapi merupakan akumulasi dari tekanan antropogenik, variabilitas iklim global, serta perubahan kondisi oseanografi,” kata Taslim saat menyampaikan orasi ilmiah pada acara Pengukuhan Profesor Riset BRIN, di Jakarta, Selasa (31/3).

Dalam risetnya, ditemukan bahwa penurunan kesehatan terumbu karang berkorelasi erat dengan meningkatnya suhu perairan, sedimentasi, serta konsentrasi nutrien seperti nitrat dan fosfat.

Faktor-faktor tersebut umumnya berkaitan dengan aktivitas manusia di wilayah pesisir, termasuk urbanisasi dan praktik pemanfaatan sumber daya yang tidak berkelanjutan.

Selain itu, fenomena iklim global seperti El Niño Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) turut memperparah tekanan terhadap ekosistem karang melalui peningkatan frekuensi kejadian ekstrem.

Untuk itu, Taslim menekankan pentingnya pendekatan ilmiah terpadu dalam menjaga keberlanjutan terumbu karang melalui pengembangan Indeks Daya Dukung Ekologi (IDDE).

Menurut Taslim, selama ini terdapat kesenjangan mendasar dalam pengelolaan terumbu karang, mulai dari pendekatan yang masih sektoral dan parsial, keterbatasan integrasi antar-ekosistem, hingga belum adanya standar nasional yang komprehensif. Kondisi tersebut dinilai menghambat efektivitas kebijakan konservasi.

Merespons kesenjangan tersebut, Taslim mengembangkan konsep IDDE berbasis ekosistem yang mengintegrasikan berbagai parameter penting, seperti faktor geofisik, oseanografi, serta tekanan aktivitas manusia.

Karang mati di Botutonou, Bone Bolango, Provinsi Gorontalo. FOTO: DARILAUT.ID

Konsep ini bertujuan untuk mengukur kapasitas suatu wilayah dalam menopang kehidupan tanpa mengalami degradasi, kata Taslim.

Taslim menjelaskan bahwa daya dukung ekologi tidak dapat dipahami sebagai batas statis semata, melainkan sebagai hasil interaksi dinamis antara sistem biofisik dan kebutuhan sosial-ekonomi.

Oleh karena itu, pendekatan yang digunakan harus mampu menangkap dimensi spasial, temporal, dan ekologis secara bersamaan.

“Pendekatan terpadu memungkinkan pemetaan distribusi tekanan dan kapasitas wilayah secara lebih akurat, sekaligus memprediksi perubahan kondisi lingkungan dalam berbagai skenario,” ujar Taslim seperti dikutip dari Brin.go.id.

Exit mobile version