Palu – Ekspedisi Pinisi Bakti Nusa, hari ini Rabu (28/11) kembali menyalurkan bantuan untuk korban gempa dan tsunami di desa pesisir Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah. Program ini kerjasama Ikatan Sarjana Kelautan Indonesia (ISKINDO) dan Yayasan Makassar Skalia (YMS).
Bantuan yang disalurkan berupa logistik dan peralatan ibadah, peralatan sekolah, serta bantuan alat tangkap dan bantuan alat bengkel nelayan.
Ketua umum ISKINDO Zulficar Mochtar mengatakan, penyaluran bantuan ini fokus untuk memulihkan dan merekontruksi kehidupan masyarakat pesisir yang terkena dampak. “ISKINDO hadir untuk membantu merehabilitasi dan merekontruksi desa pesisir yang terkena dampak melalui pemberian bantuan sarana kenelayanan dan prasarana pendidikan di Desa Tompe dan Desa Tanjung Pandang, Kecamatan Sirendja Kabupaten Donggala,” kata Zulficar.
Desa Tompe termasuk salah satu yang terkena bencana gempa dan tsunami akhir September 2018 lalu. Dari data yang dikumpulkan tim ISKINDO di lapangan, terdapat 368 rumah di desa tersebut.
Sebanyak 136 rumah terdampak, 37 rumah rusak berat. “Ada 503 kepala keluarga yang ada di Desa Tompe, 100 KK merupakan nelayan yang kehidupannya sangat bergantung pada usaha penangkapan ikan,” ujar Zulficar.
Koordinator Ekspedisi Pinisi Bakti Nusa Moh Abdi Suhufan mengatakan, setelah melakukan assessment cepat, pada fase tanggap darurat awal Oktober lalu, misi kami saat ini adalah membantu pemulihan kehidupan ekonomi masyarakat pesisir agar aktivitas melaut bisa normal.
Menurut Abdi, bantuan alat tangkap dan alat bengkel nelayan untuk desa Tompe telah disalurkan hari ini kepada kelompok Berkah Nelayan.
“Kelompok Nelayan Berkah Desa Tompe memiliki anggota 15 orang, dengan bantuan alat perbengkelan ini mereka bisa memperbaiki perahu dan alat tangkap yang rusak akibat bencana lalu,” kata Abdi.
Nelayan Tompe masih membutuhkan bantuan perahu untuk melaut. Saat ini hanya tersisa 9 perahu yang masih dalam kondisi baik.
“Ada kebutuhan 30 perahu untuk 10 kelompok nelayan yang akan kami bantu koordinasikan dengan pihak terkait dan donatur agar bantuan perahu dapat tersedia kepada nelayan di desa Tompe,” ujarnya.
Ketua Kelompok Nelayan Berkah bernama Agil dan nelayan lainnya telah menerima bantuan alat tangkap dan alat perbengkelan.
“Kami sangat bersyukur dengan bantuan ini. Setelah bencana, ini bantuan pertama yang kami terima untuk mencari ikan,” kata Agil.
Agil berharap pemerintah secepatnya melakukan program rehabilitasi dan rekontruksi kehidupan nelayan di Donggala melalui penyediaan rumah nelayan yang ramah bencana, bantuan perahu dan alat tangkap.
Selain itu, melakukan penataan dan relokasi di Desa Tompe. Soalnya, kondisi tanah di pesisir Tompe telah mengalami pergeseran.*
