El Nino Akan Berubah Menjadi La Nina

Kondisi panas di bulan Februari 2024 melanda berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. FOTO: DARILAUT

Darilaut – Akhir tahun ini, El Nino diperkirakan akan berubah menjadi La Nina. Peristiwa El Nino tahun 2023 dan 2024, turut memicu lonjakan suhu global dan cuaca ekstrem di seluruh dunia, kini menunjukkan tanda-tanda akan berakhir.

Laporan terbaru Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), kemungkinan kondisi La Nina akan kembali terjadi pada akhir tahun ini.

Dalam siaran pers WMO, prakiraan terbaru dari WMO Global Producing Centers of Long-Range Forecasts memberikan peluang yang sama (50%) baik untuk kondisi netral maupun transisi ke La Nina selama Juni-Agustus 2024.

Peluang kondisi La Nina meningkat hingga 60% selama Juli-September dan 70% selama bulan Agustus-November. Saat ini, kemungkinan terjadinya kembali El Nino dapat diabaikan.

La Nina mengacu pada pendinginan suhu permukaan laut dalam skala besar di Samudera Pasifik khatulistiwa bagian tengah dan timur, ditambah dengan perubahan sirkulasi atmosfer tropis, yaitu angin, tekanan, dan curah hujan.

Dampak dari setiap peristiwa La Nina bervariasi tergantung pada intensitas, durasi, waktu terjadinya La Nina, dan interaksi dengan bentuk variabilitas iklim lainnya.

Di banyak lokasi, terutama di daerah tropis, La Nina menimbulkan dampak iklim yang berlawanan dengan El Nino.

Namun, peristiwa iklim yang terjadi secara alami seperti El Nino Southern Oscillation (ENSO) kini terjadi dalam konteks perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia, yang meningkatkan suhu global, memperburuk cuaca dan iklim ekstrem, serta berdampak pada curah hujan musiman dan pola suhu.

“Setiap bulan sejak Juni 2023 telah mencatat rekor suhu baru – dan tahun 2023 sejauh ini merupakan tahun terpanas yang pernah tercatat,” kata Wakil Sekretaris Jenderal WMO Ko Barrett.

Menurut Barrett, berakhirnya El Nino bukan berarti jeda, karena perubahan iklim jangka panjang akan terus terjadi karena planet kita akan terus memanas akibat gas rumah kaca yang memerangkap panas.

”Suhu permukaan laut yang sangat tinggi akan terus memainkan peranan penting selama beberapa bulan ke depan,” ujarnya.

Sembilan tahun terakhir merupakan rekor terpanas bahkan dengan pengaruh pendinginan La Nina multi-tahun dari tahun 2020 hingga awal tahun 2023. El Nino mencapai puncaknya pada bulan Desember 2023 sebagai salah satu dari lima tahun terkuat yang pernah tercatat.

Barrett, yang memimpin delegasi WMO pada sesi Perubahan Iklim PBB di Bonn, mengatakan, cuaca akan terus menjadi lebih ekstrem karena panas dan kelembapan ekstra di atmosfer. Inilah sebabnya inisiatif Peringatan Dini untuk Semua tetap menjadi prioritas utama WMO.

”Prakiraan musiman El Nino dan La Nina, serta antisipasi dampaknya terhadap pola iklim secara global merupakan alat penting untuk memberikan peringatan dini dan tindakan dini,” kata Barrett.

Kondisi La Nina umumnya mengikuti peristiwa El Nino yang kuat, dan hal ini sejalan dengan prediksi model terbaru, meskipun masih terdapat ketidakpastian yang tinggi mengenai kekuatan atau durasinya. Model prakiraan musiman pada saat ini diketahui memiliki “penghalang prediktabilitas musim semi” di Belahan Bumi Utara.

Exit mobile version