Para petani di daerah rawan kekeringan, kata Marcos, diimbau untuk sementara waktu beralih ke tanaman yang membutuhkan lebih sedikit air.
“Sebagai respons terhadap ancaman El Niño, kami telah menyarankan beberapa petani untuk menanam tanaman komersial bernilai tinggi seperti semangka, jahe, ubi ungu, kacang tanah, dan terong,” katanya.
Pemerintah juga mempromosikan teknologi pertanian adaptif iklim, termasuk pompa bertenaga surya dan sistem penggunaan kembali atau daur ulang air di daerah yang sering dilanda kekeringan.
Bertahan Hingga 2027
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim kemarau di Indonesia terjadi pada Juli–September 2026.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, mengatakan, musim kemarau di Indonesia pada tahun 2026 ini diprediksi lebih kering dan lebih panjang dibanding rata-rata normalnya. Kondisi ini memerlukan penyesuaian ekstra mengingat adanya peluang El Nino.
“BMKG memprediksi fenomena El Nino akan terus bertahan hingga awal tahun 2027 dengan peluang intensitas mencapai kategori moderat sebesar 98 persen dan kategori kuat sebesar 62 persen, namun demikian dampaknya untuk wilayah Indonesia ketika bertemu periode Musim Kemarau hingga pertengahan bulan Oktober,” ujar Ardhasena.




