Darilaut – Gempa bumi Pohuwato magnitudo (M)6,3 pada Kamis (24/7) pagi berasosiasi dengan Subduksi Sulawesi Utara.
Gempa bumi intraslab tersebut dengan dgn mekanisme pergerakan naik (thrust fault) pada kedalaman menengah, kata Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Analisis Pusat Vulkanologi berdasarkan posisi lokasi pusat gempa bumi, kedalaman, dan data mekanisme sumber dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dan The United States Geological Survey (USGS) Amerika Serikat.
Data BMKG, guncangan gempa bumi dirasakan di Pohuwatu, Toli-Toli dan Parigi Moutong pada skala III-IV MMI (Modified Mercalli Intensity) serta III MMI di Gorontalo, Bulungan, Kutai Timur, Berau, Bolaang Mongondow Timur, Tomohon, Bolaang Mongondow, Minahasa Selatan, Kotamobagu, Bolaang Mongondow Utara, Boalemo, Minahasa Tenggara, Donggala, Gorontalo Utara, Bone Bolango, dan II-III MMI di Manado dan Minahasa Utara .
Sementara data Badan Geologi, sebaran permukiman penduduk yang terlanda guncangan gempa bumi terletak pada Kawasan Rawan Bencana (KRB) gempa bumi menengah dan tinggi.
Keadian gempa bumi ini tidak menyebabkan tsunami meskipun lokasi pusat gempa bumi terletak di laut, ”karena tidak mengakibatkan terjadinya deformasi di dasar laut yang dapat memicu terjadinya tsunami,” ujar Pusat Vulkanologi.
Gempa Pohuwato terjadi pada Kamis (24/7) pukul 03.50.45 WIB atau 03.50.45 Wita.Lokasi pusat gempa bumi terletak pada koordinat 122.02° BT dan 0.43° LU, berjarak sekitar 8 Km tenggara Marisa Pohuwato, Gorontalo, di kedalaman 132 Km.
Informasi USGS, lokasi pusat gempa bumi terletak pada koordinat 122.086° BT dan 0.444° LU dengan M6,3 pada kedalaman 144,6 km.
Data GeoForschungsZentrum (GFZ), Jerman, lokasi pusat gempa bumi berada pada koordinat 122.05° BT dan 0.43° LU, dengan magnitudo (6.3Mw) pada kedalaman 140 Km.
Kondisi Geologi
Morfologi wilayah Pohuwato umumnya berupa dataran pantai yang berbatasan dengan perbukitan bergelombang hingga terjal. Wilayah ini tersusun oleh endapan kuarter yang terdiri dari endapan pantai, endapan sungai dan batuan rombakan gunungapi muda.
Endapan Kuarter dan batuan yang telah mengalami pelapukan pada umumnya bersifat lunak, lepas, belum kompak (unconsolidated) dan memperkuat efek guncangan, sehingga rawan gempa bumi.
Selain itu pada morfologi perbukitan bergelombang hingga terjal yang tersusun oleh batuan yang telah mengalami pelapukan, berpotensi terjadi gerakan tanah yang dapat dipicu oleh guncangan gempa bumi kuat dan curah hujan tinggi.
Kekerasan batuan permukaan dipengaruhi oleh umur dan jenis batuan. Batuan yang berumur lebih muda atau yang telah mengalami pelapukan mempunyai kekerasan lebih rendah begitu juga sebaliknya. Wilayah ini secara umum tersusun oleh tanah keras (kelas C).
