Darilaut – Gempa darat yang terjadi di Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo, pada Sabtu (3/5) malam, terjadi karena sesar oblique.
Gempa bumi ini termasuk dalam Reverse left lateral oblique (sesar oblique mengiri dengan komponen naik), bidang sesar berarah barat daya – timur laut yang menunjukkan asosiasinya dengan aktivitas subduksi Sulawesi Utara, kata Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Analisis Pusat Vulkanologi ini berdasarkan posisi lokasi pusat gempa bumi, kedalaman, dan data mekanisme sumber dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dan The United States Geological Survey (USGS) Amerika Serikat.
Menurut BMKG Gorontalo, pusat gempa berada 32 km barat laut Marisa, ibukota Pohuwato, terjadi pukul 19.51.45 WIB atau 20.51.45 Wita.
Gempa magnitudo (M) 6,0 berada di kedalaman 98 km. Lokasi gempa berada pada titik koordiat 0,55 LU-121,68 BT.
Data dari USGS, lokasi pusat gempa bumi terletak pada koordinat 0.501° LU – 121.577° BT di kedalaman 108.4 km. Data GeoForschungsZentrum (GFZ), Jerman, lokasi pusat gempa bumi berada pada koordinat 0.47° LU – 121.71° BT, pada kedalaman 108 km.
Pusat Vulkanologi menjelaskan bahwa morfologi wilayah tersebut pada umumnya berupa dataran pantai yang berbatasan dengan morfologi perbukitan bergelombang hingga terjal.
Wilayah ini secara umum tersusun oleh tanah keras (kelas C), tersusun dari endapan kuarter yang terdiri atas endapan pantai, endapan sungai dan batuan rombakan gunungapi muda.
Endapan Kuarter dan batuan yang telah mengalami pelapukan pada umumnya bersifat lunak, lepas, belum kompak (unconsolidated) dan memperkuat efek guncangan, sehingga rawan gempa bumi.
Selain itu, pada morfologi perbukitan bergelombang hingga terjal yang tersusun oleh batuan yang telah mengalami pelapukan, berpotensi terjadi gerakan tanah yang dapat dipicu oleh guncangan gempa bumi kuat dan curah hujan tinggi.
Menurut data Badan Geologi, sebaran permukiman penduduk yang terlanda guncangan gempa bumi terletak pada Kawasan Rawan Bencana (KRB) gempa bumi menengah dan tinggi.
Kejadian gempa bumi ini tidak menyebabkan tsunami karena lokasi pusat gempa di darat dan tidak menyebabkan dislokasi dasar laut, kata Pusat Vulkanologi.
Pusat Vulkanologi merekomendasikan, pertama, masyarakat diimbau untuk tetap tenang, mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat, tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan, dan jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempa bumi dan tsunami.
Kedua, menguatkan sosialisasi tentang bencana geologi dan melibatkan masyarakat untuk melaporkan tingkat kerusakan melalui jalur komunikasi yang cepat kepada bpbd sebagai upaya percepatan respon.
BMKG mengatakan dalam skala MMI gempa dirasakan III-IV Kabupaten Pohuwato dan Boalemo, III Gorontalo, III Gorontalo Utara, III Manado, III Berau, II-III Palu, II Masamba.
Akibat gempa ini dilaporkan warga di Kecamatan Randangan yang berada di dekat pusat gempa warga berhamburan keluar rumah dan ke jalan. Begitu pula warga yang sementara berada di warung kopi.
Terdapat plafon rumah yang ambruk. Begitu juga plafon di salah satu ruangan SMA 1 Randangan ambruk, dan barang berhamburan yang dipajang di toko.
