“Kami berkoordinasi dengan instansi pemerintah terkait dalam menangani masalah ini dengan tujuan melindungi masyarakat dari potensi bahaya apa pun,” kata Kepala PNP Jenderal Jose Melencio Nartatez Jr. dalam sebuah pernyataan pada hari Selasa.
“Saya telah secara tegas mengarahkan unit-unit lokal kami di daerah yang terkena dampak untuk membangun pos pemeriksaan keamanan yang ketat dan titik pemantauan maritim di sekitar daerah pesisir yang terangkat di Sarangani dan Davao Occidental untuk melarang siapa pun mengambil atau memanen biota laut yang terpapar,” ujarnya.
Untuk mencegah makanan laut yang tidak aman mencapai masyarakat, Nartatez mengatakan unit kepolisian setempat telah meningkatkan pengawasan terhadap jalur transportasi, pelabuhan ikan, dan pasar umum, sementara inspeksi mendadak dilakukan berkoordinasi dengan otoritas perikanan.
Pihak berwenang juga mengawasi koridor pasokan utama yang menghubungkan Sarangani, Kota General Santos, dan provinsi-provinsi terdekat untuk mencegat setiap tangkapan ilegal atau tidak aman dari perairan yang terdampak.
Memicu Tsunami
Gempa bumi dahsyat M7,8 yang mengguncang Sarangani dan provinsi sekitarnya Senin pukul 07.37 pagi waktu setempat, telah memicu gelombang tsunami 1 meter.
Menurut Institut Vulkanologi dan Seismologi Filipina (Philippine Institute of Volcanology and Seismology-Phivolcs) gelombang tsunami tercatat di sepanjang pantai Kiamba dan Maasim, Sarangani, dan Kalamansig, Sultan Kudarat, dengan ketinggian sekitar 1 meter.




