Gempa Turki Pengingat Bagi Indonesia, Salah Satunya Sesar Gorontalo

Sebagian pemukiman Kota Gorontalo. FOTO: DARILAUT.ID

Darilaut – Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati, mengatakan, gempa Turki menjadi pengingat bagi kita yang ada di Indonesia, yang juga merupakan wilayah yang rawan terhadap gempa yang dipicu sesar aktif. Terlebih gempa yang bersifat merusak akibat pusat gempa berada di permukaan yang dangkal.

Kajian yang komprehensif mengenai zona sesar geser di Indonesia meliputi Sesar Besar Sumatera, Sesar Palu Koro, Sesar Matano, Sesar Cimandiri, Sesar Opak, Sesar Gorontalo, Sesar Tarera Aiduna, Sesar Yapen, dan lainnya.

Khususnya sesar Gorontalo dan Opak yang terletak di daerah padat penduduk, memerlukan perhatian lebih karena potensi gempa yang signifikan.

Secara geologis Turki cukup rumit sehingga mendorong terjadinya berbagai peristiwa gempa bumi.

Kerjasama untuk kolaborasi penelitian, pemahaman, dan penerapan hasil peningkatan pengetahuan diperlukan untuk menghindari dampak bencana gempa tersebut.

Menurut Dwikorita yang menjadi penyebab umum keruntuhan bangunan akibat gempa bumi yaitu desain bangunan yang tidak konsisten, material dan kualitas yang kurang baik.

Selain itu, perawatan yang tidak memadai, permintaan seismik terkadang terlalu tinggi karena beberapa faktor tertentu (ketidakteraturan struktural, massa yang tidak perlu), dan lain-lain.

Kota Gorontalo. GAMBAR: GOOGLE EARTH

Pembaruan berkala peta bahaya seismik memberikan dasar teknis bagi ketentuan desain seismik dalam kode bangunan.

Salah satu upaya untuk mitigasi bahaya secara cepat dapat dilakukan dengan memahami potensi bahaya gempa bumi dan risikonya sehingga tidak ada korban jiwa meskipun daerah tersebut memiliki jarak tempuh tertentu.

Pada Kamis (23/2) BMKG menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) dengan topik “Lesson Learned from Turkey Earthquake for Mitigation Preparedness of the Next Potential Destructive Earthquake in Indonesia“.

Kegiatan ini dihadiri instansi pemerintah pusat dan daerah, kalangan akademisi dan Lembaga peneliti diantaranya USGS, Japan Meteorological Agency (JMA) dan Japan International Coorperation Agency (JICA).

Adapun narasumber FGD tersebut adalah dari Universitas Hokaido Jepang, USGS, Universitas Stanford, ITB, BRIN dan BMKG.

Dwikorita mengatakan gempa dahsyat di Turki dan Suriah dengan magnitudo 7.8, 6.7, 7.5, serta 6.8 baru-baru ini memberikan peringatan bagi Indonesia.

Menurut BMKG, Indonesia memiliki potensi gempa dahsyat yang sama dengan Turki.

Exit mobile version