Darilaut – Gletser kehilangan massa setiap tahun. Es laut Arktik telah berkurang sekitar 40% sejak tahun 1979 dan lapisan es Greenland dan Antartika mencair dengan cepat, implikasi jangka panjang terhadap kenaikan permukaan laut.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan 21 Maret sebagai Hari Gletser Sedunia (World Day for Glaciers) dan memproklamirkan tahun 2025 sebagai Tahun Internasional Pelestarian Gletser (IYGP 2025), yang dilaksanakan oleh Organisasi Meteorologi Dunia dan UNESCO.
Gletser sangat penting bagi ekosistem Bumi, berfungsi sebagai reservoir air tawar utama dan indikator kesehatan planet ini. Gletser adalah menara air penting.
Kriosfer – termasuk gletser, lapisan es, permafrost, es laut, dan salju – menyimpan sekitar 70% air tawar Bumi. Kriosfer menyusut dengan cepat.
“Melindungi gletser bukan hanya tentang es. Ini tentang air, keselamatan, ekosistem, dan masa depan jutaan orang,” kata Sekretaris Jenderal WMO Celeste Saulo.
“Kita tidak dapat menghentikan pencairan gletser. Dan kita tidak dapat menghentikan setiap bahaya, tetapi kita dapat mempersiapkannya melalui pemantauan berbasis sains, peramalan, dan sistem peringatan dini,” katanya dalam pesan video pada upacara penutupan di UNESCO, yang menandai Hari Gletser Sedunia dan Hari Air Sedunia pada 22 Maret.
Tahun Gletser menjadi landasan bagi Dekade Aksi untuk Ilmu Kriosfer (2025–2034). Ini akan memberikan kerangka kerja jangka panjang dan menggeser fokus dari kesadaran ke tindakan terkoordinasi, menyelaraskan penelitian, pengamatan, dan layanan serta mendukung penyampaian pengetahuan yang dapat ditindaklanjuti untuk pengambilan keputusan.
“Kita dapat mengurangi risiko dan membangun ketahanan jika kita memperkuat kolaborasi, meningkatkan pemantauan, mendasarkan keputusan pada sains, dan berinvestasi dalam sistem yang melindungi manusia,” kata Celeste Saulo, mengutip siaran pers WMO.
Tahun lalu WMO menyoroti pencairan salju dan es di pegunungan Jayawijaya, Papua. Pencairan es gletser terus berlanjut dengan cepat di Indonesia, selama tahun 2024.
Estimasi melalui satelit, sejak tahun 2022 total luas es di Papua menurun hingga 30-50% sejak tahun 2022, menurut estimasi satelit.
”Jika laju ini terus berlanjut, total pencairan es diperkirakan akan terjadi pada tahun 2026 atau segera setelahnya,” kata WMO, mengutip laporan yang dirilis bertepatan dengan Platform Global tentang Pengurangan Risiko Bencana 2025 di Jenewa dan menjelang Konferensi Kelautan PBB 2025.
Salju dan es jarang ditemukan di sebagian besar, tetapi tidak semua, Pasifik Barat Daya. Ada gletser di pegunungan Selandia Baru dan di puncak tertinggi di bagian barat Papua.
Indonesia yang berada di wilayah tropis memiliki keunikan karena terdapat salju abadi di Pegunungan Jayawijaya.
Salju abadi ini di ambang kepunahan. Hal ini menjadi sinyal buruk bagi Indonesia karena tidak lama lagi salju abadi di Pegunungan Jayawijaya akan musnah dalam beberapa tahun mendatang.
