Darilaut – Teknologi GPS (Global Positioning System) yang kini digunakan masyarakat untuk peta digital, transportasi, hingga perangkat pintar, ternyata memiliki sejarah panjang sebagai sistem satelit militer Amerika Serikat. Hal ini diungkapkan Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Mekatronika Cerdas BRIN, Slamet Supriyadi, dalam Webinar PRMC #07 bertajuk “Securing the Signals: From IoT Networks to GPS Instrumentation” pada Selasa (18/11).
Slamet menjelaskan, GPS awalnya dirancang untuk kebutuhan navigasi militer. Namun seiring perkembangan teknologi global, negara lain mulai membangun sistem alternatif untuk keperluan sipil.
“GPS ini memang dia dari militer, tapi karena negara lain mengembangkan untuk sipil, muncul ide-ide baru untuk meningkatkan akurasi.”
Salah satu terobosan penting adalah penggunaan satelit geostasioner (GEO) yang berada di ketinggian 35.000 km. Satelit GEO bergerak mengikuti rotasi bumi, sehingga posisinya selalu tampak berada di titik yang sama.
“Keunggulan satelit GEO adalah dapat memberikan koreksi secara terus-menerus sehingga menutup kelemahan GPS,” kata Slamet.
Ia merinci berbagai kendala teknis pada GPS, seperti keterlambatan sinyal akibat melewati ionosfer dan troposfer, multipath yang menyebabkan sinyal memantul-mantul, interferensi dari sinyal lain, hingga ancaman jamming dan spoofing.




