Gunung Anak Krakatau Meletus 8 Kali

Letusan Gunung Anak Krakatau Minggu (18/10) siang. FOTO: PVMBG

Darilaut – Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi, mencatat delapan letusan (erupsi) Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, pada Minggu (18/10). Sepanjang 2026 jumlah letusan Gunung Anak Krakatau 159.

Erupsi Minggu terjadi pukul 06.00.56 WIB, pukul 11:44 WIB, pukul 12:01 WIB, pukul 12:57 WIB, pukul 12.59.19 WIB, pukul 17.34.09 WIB, pukul 22:22 WIB dan pukul 22:25 WIB.

Erupsi Anak Krakatau Minggu malam, tinggi kolom erupsi tidak teramati. Erupsi ini terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 45 mm dan durasi 100 detik.

Teramati asap kawah utama berwarna putih, kelabu dan hitam dengan intensitas tipis, sedang hingga tebal tinggi sekitar 5-500 meter dari puncak. Cuaca berawan, angin lemah hingga sedang ke arah utara dan barat laut.

Hasil pengamatan kegempaan tercatat 15 kali gempa letusan dengan amplitudo 43-70 mm, dan lama gempa 20-674 detik; 10 kali gempa embusan dengan amplitudo 13-48 mm, dan lama gempa 17-49 detik; 7 kali gempa low frequency dengan amplitudo 10-50 mm, dan lama gempa 5-12 detik.

Pusat Vulkanologi mencatat 72 kali gempa hybrid/ fase Banyak dengan amplitudo 4-50 mm, S-P tidak teramati dan lama gempa 5-19 detik; 29 kali gempa Vulkanik Dangkal dengan amplitudo 8-48 mm, dan lama gempa 4-17 detik;8 kali gempa Vulkanik Dalam dengan amplitudo 41-58 mm, S-P 1.4-3.2 detik dan lama gempa 11-27 detik dan 4 kali gempa Tremor Menerus dengan amplitudo 0.5-15 mm, dominan 5 mm.

Kegempaan lainnya, 6 kali gempa erupsi dengan amplitudo 45-70 mm, dan lama gempa 20-589 detik; 3 kali gempa Hembusan dengan amplitudo 24-47 mm, dan lama gempa 17-38 detik; 1 kali gempa Low Frequency dengan amplitudo 50 mm, dan lama gempa 12 detik; 20 kali gempa hybrid/ fase Banyak dengan amplitudo 8-50 mm, S-P tidak teramati dan lama gempa 5-17 detik.

Selain itu, 9 kali gempa Vulkanik Dangkal dengan amplitudo 14-46 mm, dan lama gempa 4-11 detik; 1 kali gempa Vulkanik Dalam dengan amplitudo 47 mm, S-P 2.9 detik dan lama gempa 14 detik; 1 kali gempa Tremor Menerus dengan amplitudo 1-15 mm, dominan 3 mm.

Pada Minggu sore, teramati asap kawah utama berwarna putih, kelabu dan hitam dengan intensitas sedang hingga tebal tinggi sekitar 50-500 meter dari puncak. Cuaca berawan, angin lemah hingga sedang ke arah utara dan barat laut.

Minggu siang, teramati asap kawah utama berwarna putih dan hitam dengan intensitas tipis hingga tebal tinggi sekitar 5-500 meter dari puncak. Cuaca berawan, angin lemah ke arah utara dan barat laut.

Pada Minggu siang pukul 12.57 WIB, tinggi kolom abu teramati ± 100 m di atas puncak (± 257 m di atas permukaan laut). Kolom abu teramati berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas tebal ke arah timur laut. Erupsi ini terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 55 mm dan durasi 32 detik.

Minggu pukul 12.01 WIB tinggi kolom abu teramati ± 500 m di atas puncak (± 657 m di atas permukaan laut). Kolom abu teramati berwarna hitam dengan intensitas tebal ke arah utara. Erupsi ini terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 51 mm dan durasi 41 detik.

Sebelumnya, pukul 11.44 WIB tinggi kolom abu teramati ± 500 m di atas puncak (± 657 m di atas permukaan laut). Kolom abu teramati berwarna hitam dengan intensitas tebal ke arah utara.

Minggu pagi, teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang tinggi sekitar 5-50 meter dari puncak. Cuaca berawan, angin lemah ke arah barat laut.

Kegempaan tercatat 1 kali gempa Tremor Menerus dengan amplitudo 1-10 mm, dominan 5 mm.

Hasil evaluasi instrumental dan visual, Badan Geologi – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) kembali menaikan tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga). Status Siaga ini berlaku sejak Jumat 9 Oktober 2026, pukul 21.00 WIB.

Pusat Vulkanologi merekomendasikan, masyarakat di sekitar Gunung Anak Krakatau dan pengunjung/ wisatawan/ pendaki tidak diperbolehkan memasuki dan melakukan kegiatan di dalam wilayah radius 5 km dari pusat erupsi Anak Krakatau.

Masyarakat di sekitar Gunungapi Anak Krakatau dan pengunjung/ wisatawan tidak diperbolehkan memasuki dan melakukan kegiatan di dalam wilayah radius 1 km dari pulau baru di sektor barat laut dan tenggara Gunungapi Anak Krakatau.

Meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman bahaya lontaran batu pijar, hujan abu lebat, aliran lava, dan potensi erupsi sekunder yang ditimbulkan oleh kontak panas lava, baik dengan air laut maupun air hujan dalam radius 5 km dari pusat erupsi Anak Krakatau.

Exit mobile version