Darilaut – Perairan hangat akibat fenomena El Niño mengubah warna samudra. Sebuah satelit NASA (National Aeronautics and Space Administration) tengah melacak perubahan warna yang halus ini. Perairan di wilayah Pasifik khatulistiwa tercatat menjadi lebih biru selama beberapa bulan terakhir.
Matthew Kehrli, ilmuwan peneliti utama tim satelit PACE (Plankton, Aerosol, Cloud, ocean Ecosystem) di Goddard Space Flight Center milik NASA, yang berlokasi di Greenbelt, Maryland, menjelaskan bahwa banyak orang menganggap air laut hanya berwarna biru, padahal samudra sebenarnya memiliki beragam warna yang menakjubkan.
Keragaman warna ini sebagian besar disebabkan oleh organisme mikroskopis yang disebut fitoplankton, yang menjadi dasar dari jaring-jaring makanan laut. Terdapat ribuan spesies fitoplankton dengan berbagai corak warna, seperti biru kehijauan (teal), cokelat, atau hijau. Tahun ini, di wilayah Samudra Pasifik sepanjang khatulistiwa—yang biasanya kaya akan fitoplankton sehingga tampak lebih hijau—warna-warna tersebut justru mulai memudar.
Hal ini merupakan dampak yang memang diperkirakan terjadi akibat El Niño. Fitoplankton tumbuh subur di perairan yang dingin dan kaya nutrisi. Namun, saat terjadi El Niño, melemahnya angin pasat mengurangi proses naiknya air laut dalam yang kaya nutrisi ke permukaan. Akibat terbatasnya pasokan nutrisi, jumlah fitoplankton pun menurun. Penurunan ini dapat memicu dampak berantai di seluruh jaring makanan laut, yang memaksa biota laut lainnya untuk berpindah ke tempat mencari makan yang baru.




