Darilaut – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan melakukan mitigasi diri, keluarga, dan lingkungannya.
Sepekan ke depan, hari ini 28 Januari hingga 2 Februari 2026, potensi cuaca ekstrem dapat memicu bencana hidrometeorologi, seperti genangan, banjir, banjir bandang dan longsor.
Menurut Direktorat Meteorologi Publik BMKG, penguatan Monsun Asia dan aliran udara dari Asia membentuk pola awan memanjang akibat konvergensi antar tropis atau InterTropical Convergence Zone (ITCZ) dapat memicu cuaca ekstrem di sejumlah wilayah Indonesia
Dalam sepekan ke depan, BMKG memprakirakan pengaruh dinamika atmosfer pada skala global, regional, dan lokal masih signifikan terhadap kondisi cuaca di Indonesia.
Pada skala global, kata BMKG, El Nino–Southern Oscillation (ENSO) terpantau menguat pada fase negatif yang mengindikasikan kondisi La Nina lemah.
Kondisi ini berpotensi meningkatkan pasokan uap air yang mendukung pembentukan awan hujan di sebagian wilayah Indonesia, terutama bagian timur, kata BMKG.
Selain La Nina lemah, aktivitas monsun Asia diprediksi masih cukup persisten hingga dasarian pertama Bulan Februari. Selain itu, Cross Equatorial Northerly Surge (CENS) juga diprakirakan masih aktif dalam beberapa hari ke depan.
Monsun Asia
BMKG mengatakan aktivitas Monsun Asia ditandai dengan peningkatan kecepatan angin di Laut Cina Selatan terpantau dalam sepekan terakhir. Massa udara dari Asia tersebut bergerak ke arah selatan, memasuki wilayah Indonesia.
Peningkatan kecepatan angin tidak hanya teramati di Laut Cina Selatan, namun juga di sekitar Selat Karimata yang mengindikasikan aktivitas CENS.
Saat bertemu dengan massa udara dari belahan bumi selatan, aliran udara dari Asia tersebut membentuk pola awan memanjang akibat konvergensi antar tropis, kata BMKG.
Pola awan yang terbentuk pada ITCZ tersebut memanjang dari wilayah Samudra Hindia barat Bengkulu, Sumatra bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, hingga Laut Arafura.
Lebih jauh lagi, menurut BMKG, daerah tekanan rendah (Tropical Low) berpotensi terbentuk di Samudera Hindia selatan Banten, Teluk Carpentaria, dan daratan Australia barat laut, yang mampu membentuk daerah perlambatan kecepatan angin (konvergensi) di wilayah Indonesia bagian selatan.
Dengan kondisi atmosfer yang relatif lembap dan labil, kondisi cuaca signifikan masih berpotensi terjadi di sebagian Indonesia, khususnya Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, dan Papua Pegunungan, kata BMKG.
