Hari Terumbu Karang, KKP: Kurangi Sampah Plastik

Asosiasi terumbu karang dan ikan. FOTO: DARILAUT.ID

Darilaut – Direktur Pendayagunaan Pesisir dan Pulau-pulau Kecil, Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Muhammad Yusuf, mengatakan, diperlukan kebijakan bagi perusahaan untuk menggunakan plastik daur ulang yang lebih ramah lingkungan sehingga dapat mengurangi sampah plastik.

“Sampah plastik adalah masalah dan suatu ancaman besar. Perlu memperkuat pengawasan daerah agar sampah di daratan tidak bocor ke laut,” kata Yusuf, dalam diskusi Hari Terumbu Karang Nasional yang diperingati setiap tanggal 8 Mei 2020.

Diskusi virtual ini dengan tema “Dampak Pandemi terhadap Perubahan Perilaku, Lingkungan dan Sampah Laut”.

Pandemi Covod-19 dapat membawa hal positif jika diikuti dengan perubahan perilaku serta kebijakan melalui aturan dan sanksi yang jelas. Bekerja dari Rumah (WFH, Work From Home) telah membawa perubahan perilaku terhadap peningkatan konsumsi plastik.

Sampah plastik di laut. FOTO: DARILAUT.ID

‘’Mengubah perilaku itu sangat sulit, apalagi bagi orang dewasa. Maka dari itu, perilaku disiplin dan menjaga lingkungan perlu dipupuk sejak dini (PAUD dan TK) sehingga anak-anak sadar tentang kebersihan di lingkungannya’’ ujar Yusuf.

Terumbu karang merupakan rumah bagi ikan. Selain dikenal sebagai pemilik diversitas ikan terumbu karang tertinggi di dunia. Indonesia menyumbang sebagian besar dari ‘Coral Triangle’, yaitu area yang memuat 76 persen spesies koral dunia dan 37 persen spesies ikan karang dunia. Kemudian 54 persen sumber protein hewani Indonesia dipasok dari ikan dan makanan laut.

Indonesia juga menyuplai 10 persen dari komoditas perikanan global. Namun kehidupan laut indonesia dalam keadaan terancam oleh overfishing dan berkurangnya stok yang ada.

Perkembangan Covid-19 yang sangat masif di Indonesia, telah meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menggunakan alat pelindung diri (APD). APD yang digunakan masyarakat dan tenaga medis, seperti masker dan sarung tangan sekali pakai termasuk dalam kategori limbah bahan beracun dan berbahaya (B3).

Jumlah jenis sampah berbahaya dari limbah medis yang terus bertambah tersebut berpotensi menyebabkan penyebaran penyakit, meningkatkan risiko yang membahayakan keselamatan dan kesehatan umum.

Untuk itu, menggunakan kemasan daur ulang dan mencucinya dengan sabun, lebih baik dibanding plastik sekali pakai yang dapat turut menyebarkan virus jika tidak dipilah dan kelola dengan baik.

Selain itu, bagaimana memilah sampah sangat membantu memusnahkan virus di Indonesia.

Diskusi Hari Terumbu Karang Nasional dikuti 700 orang peserta. Terdiri dari kementerian/lembaga, LSM, akademisi, tenaga kesehatan, mitra konservasi serta pemerhati lingkungan.*

Exit mobile version