Darilaut – Hasil survei Badan Meteorologi, Klimatolog, dan Geofisika (BMKG) tinggi tsunami pascagempa utama magnitudo (M) 7,7 di Laut Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), mencapai 2,68 meter. Gempa bumi NTT M7,7 terjadi pada Sabtu 15 Agustus 2026. Gempa tersebut disusul dengan peristiwa tasunami. BMKG mencatat tsunami (run-up) tertinggi mencapai 2,68 meter di Desa Selama, disusul Tadho Tengah sebesar 2,42 meter, Dusun Tompong 2,39 meter, dan Nangadero 2,24 meter. Sementara itu, jangkauan genangan (inundasi) terjauh mencapai 145 meter di Nampar Sepang, 136 meter di Desa Selama, dan 60 meter di Tadho. Tsunami melanda sejumlah wilayah dan merusak 23 rumah, termasuk dua rumah yang tersapu tsunami di Desa Selama. Tsunami juga menerjang rumah warga di Dusun Nampar, Desa Tadho, dan Desa Nangadero. Meski menimbulkan kerusakan, tidak ada korban jiwa akibat tsunami karena masyarakat segera melakukan evakuasi setelah menerima Peringatan Dini Tsunami. Pascakejadian gempa, BMKG langsung menerbitkan peringatan dini tsunami hanya 2 menit 16 detik setelah gempa utama mengguncang pada 15 Agustus 2026. Pusat gempa (episenter) terletak sekitar 30 km timur laut Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada kedalaman 15 km. Gempa dangkal ini dipicu oleh aktivitas Flores Back-Arc Thrust dengan mekanisme sesar naik (thrust fault). Pengamatan muka air laut BMKG melalui 16 stasiun tsunami gauge di Provinsi NTT, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Sulawesi Selatan (Sulsel) mencatat kenaikan gelombang tsunami di beberapa titik, antara lain Pota (1,60 meter), Reo (1,61 meter), Bulukumba (0,54 meter), Selayar (0,40 meter), dan Sape (0,56 meter). “Selain mengumpulkan data teknis, BMKG juga melakukan sosialisasi dan edukasi kepada tokoh masyarakat, pemuka agama, serta warga di titik-titik pengungsian,” kata Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu - BMKG, Teguh Rahayu. Kepala Pusat Standardisasi Instrumentasi MKG-BMKG, Rahmat Triyono, menjelaskan bahwa waktu kedatangan tsunami bisa sangat cepat, khususnya di wilayah Flores Back-Arc Thrust. Hal ini perlu menjadi perhatian karena peringatan dini BMKG bisa secara beriringan dikeluarkan pada saat gelombang tsunami tersebut tiba ke daratan. “Sebaik-baiknya peringatan dini adalah kesadaran masyarakat untuk merespons potensi tsunami. Maka, penting untuk membangun kesadaran masyarakat di wilayah pesisir utara NTT untuk melakukan evakuasi mandiri,” kata Rahmat. BMKG menekankan bahwa seluruh data pemantauan dan hasil survei ini menjadi masukan teknis penting bagi pemerintah dalam merealisasikan rehabilitasi dan rekonstruksi secara aman dan berkelanjutan.