Darilaut – Setiap tanggal 2 April diperingati sebagai Hari Cek Fakta Internasional (International Fact-Checking Day). Untuk memperingati Hari Cek Fakta Internasional, Darilaut.id mewawancari generasi muda mengenai hoaks dan dampaknya terhadap masyarakat. Berikut ini gagasannya:
Miyah (21 tahun), kaum muda asal Jambi
Di era informasi ini, sebagai pengguna aktif media sosial saya sadar akan banyaknya informasi yang bermunculan entah itu benar atau sekadar hoaks yang disebarkan oleh oknum-oknum tertentu.
Sebagai anak muda, Miyah senantiasa memilah dan memilih informasi yang sering kali muncul di platform media sosial.
Beberapa hari yang lalu Miyah menemukan postingan di salah satu media sosial tentang bumi yang akan mengalami kegelapan selama 72 jam karena gehana matahari. Mendapati berita tersebut yang pertama kali dilakukan adalah membuka kolom komentar.
Dengan ketelitian mencari informasi Miyah mengetahui bahwa informasi tersebut hanyalah hoaks semata.
Sadar akan hoaks yang bisa datang kapan saja, Miyah mempunyai cara agar terhindar dari penyebaran informasi palsu tersebut.
Caranya dengan melakukan filter terhadap dirinya terebih dahulu, menahan diri agar tidak langsung percaya dan menyebarluaskan informasi tersebut. Alih-alih percaya dirinya justru akan mencari sumber informasi berita tersebut.
Cara ini dilakukan agar informasi yang belum tentu kebenarannya itu tidak semakin tersebar ke masyarakat luas apalagi kepada mereka yang awam.
Gitalia Ibrahim (19 tahun), Mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan Dan Kedokteran, Universitas Muhammadiyah Gorontalo
Bagi Gitalia hoaks sangat meresahkan. Hal ini karena ini benar-benar dapat merugikan bukan hanya dirinya tetapi juga orang lain. Sebagai seorang mahasiswa yang juga aktif dalam menggunakan media sosial Gitalia bertekad dapat mempengaruhi sikap dan perilaku masyarakat terkait dengan penyebaran hoaks.
Untuk itu, Gitalia selalu menyiapkan dirinya dahulu terhindar dari hoaks. Baginya jika langsung menyebar informasi tersebut, orang-orang akan menanyakan kepadanya tentang hal tersebut dan tidak bisa menjawab.
Namun, meskipun sudah berhati-hati dalam menerima informasi, pernah terkecoh dengan sebuah unggahan yang orang-orang banyak menyebarkannya di media sosial mereka masing-masing. Melihat begitu banyak yang menyebarkan membuatnya ikut membagikan unggahan tersebut dan setelah beberapa hari berlalu muncul fakta bahwa informasi itu adalah hoaks.
Belajar dari pengalamannya Gitalia sudah memiliki langkah-langkah agar dirinya tidak terjerumus ke dalam hoaks. Hal pertama yang dibangun dalam dirinya adalah selalu memiliki rasa penasaran yang tinggi.
Dari rasa penasan inilah yang membuat dirinya untuk mencari informasi sedalam-dalamnya dan selalu berhati-hati.
Cara ini dilakukan Gitalia agar tidak langsung ikut-ikutan menyebar informasi yang nantinya merugikan dirinya dan orang lain.
Nur Izatul Amin (22 tahun), Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Gorontalo
Menurut Izatul, hoaks adalah sesuatu hal yang tidak benar, di dalamnya berupa kepalsuan baik itu dalam bentuk berita, narasi, pengumuman dan lain lain yang digunakan sebagai bentuk propaganda, penyimpangan dan sebagainya.
Di era informasi digital yang kaya dan terkadang penuh perangkap, penting bagi setiap individu untuk mempraktikkan kecerdasan digital yang tinggi.
Salah-satu aspek kunci dari kecerdasan digital adalah kemampuan untuk membedakan antara informasi yang sah dan yang tidak benar. Izatul selalu mendapatkan berbagai informasi baik dari situs berita maupun sosial media.
Izatul mengatakan akan selalu mencari informasi dari sumber-sumber yang tepercaya, cukup dengan mengetikkan kata kunci berita serupa akan muncul dengan berbagai jawaban yang berbeda.
Namun, tidak jarang informasi palsu atau terdistorsi tersebar karena kurangnya kewaspadaan atau terpengaruh oleh pihak-pihak yang mempunyai pengaruh seperti influencer.
Izatul mengatakan pernah menyebarkan informasi hoaks karena ketidaktelitiannya dalam mencari sumber informasi dan terkecoh oleh influencer yang ikut menyebarkan unggahan hoaks tersebut.
Baginya ada banyak judul berita yang mengejutkan dan sensasional. Namun isi beritanya tidak konsisten atau bahkan bertentangan dengan judul yang tertera (clickbait).
Untuk menghindari fenomena clickbait ini dengan memastikan untuk membaca secara keseluruhan isi berita, dan mencari informasi tambahan untuk membuktikan kebenarannya. (Dewi Agustina Musa)
