Darilaut – Populasi hiu dan pari di Indonesia terus mengalami penurunan. Hingga saat ini, perdagangan hiu dan pari Indonesia terbesar di dunia, di bawahnya ada Spanyol dan India.
Tujuan utama ekspor sirip hiu dan pari adalah Hong Kong, sedangkan khusus jenis pari produk daging utamanya ke Malaysia, kata Peneliti Pusat Riset Zoologi Terapan (PRZT) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Andhika Prima Prasetyo, dalam rangkaian Applied Zoology Summer School #13, Sabtu (15/11).
Penangkapan menunjukkan kondisi yang fluktuatif dan terjadi penurunan dimana pada tahun 2000 penangkapan hiu menurun sedangkan pari semakin meningkat.
Andhika mengatakan hasil produk hiu dan pari sangatlah beragam, seperti sirip, daging dan tulang hiu. Adapun kulit pari diolah menjadi dompet, sarung pedang dan sepatu.
Secara umum pemanfaatan hiu dan pari adalah “zero waste” yang dimanfaatkan mulai dari fin (sirip) hingga intestine (isi perut).
Lebih jauh, Andhika menjelaskan bahwa pengelolaan dan konservasi hiu dan pari dapat didukung dengan pendekatan genetik yaitu identifikasi spesies.
“Pendekatan genetik juga dapat mendukung ketertelusuran geografis, mendukung penegakan hukum dan regulasi. Perlindungan keanekaragaman hayati, termasuk keanekaragaman genetik, serta pengembangan laboratorium uji genetik,” ujarnya.




