Sementara Jayapura terletak di pesisir utara Papua yang berhadapan dengan Samudra Pasifik dan sensitif terhadap dinamika gelombang dari arah timur.
Penelitian ini menggunakan data curah hujan harian dan berbagai parameter atmosfer skala besar periode 2001–2023. Hujan ekstrem diidentifikasi menggunakan pendekatan persentil ke-95 untuk kondisi basah ekstrem dan persentil ke-5 untuk kondisi kering ekstrem.
Identifikasi gelombang atmosfer dilakukan dengan metode Wheeler Kiladis untuk memisahkan berbagai tipe gelombang ekuatorial seperti Madden-Julian Oscillation (MJO), Kelvin, Rossby, dan Mixed Rossby-Gravity (MRG).
Selain itu, kajian ini mempertimbangkan pengaruh penggerak iklim global, seperti ENSO dan Indian Ocean Dipole (IOD), serta sirkulasi meridional seperti cold surge, cross-equatorial northerly surge, southerly surge, dan Borneo Vortex.
Hasil analisis menunjukkan di Kota Padang, Gelombang Rossby Ekuatorial secara mandiri sudah mampu meningkatkan peluang terjadinya hujan ekstrem. Peningkatan peluang tersebut semakin besar ketika berinteraksi dengan kondisi La Niña yang menyediakan latar belakang atmosfer lebih lembab, kata Fadli.
Namun, menurut Fadli, peningkatan tertinggi justru terjadi ketika beberapa mekanisme atmosfer aktif secara bersamaan, seperti ER waves, MJO, Kelvin, dan sirkulasi meridional, yang membentuk konvergensi terfokus di wilayah pesisir dan diperkuat oleh topografi.




