Darilaut – Analisis peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) gelombang Rossby Ekuatorial dapat memicu hujan ekstrem di Padang, Sumatra Barat dan Jayapura, Papua. Kondisi ini semakin besar ketika berinteraksi dengan kondisi La Niña.
Hujan ekstrem di wilayah ekuatorial (khatulistiwa) Indonesia dipengaruhi oleh interaksi kompleks berbagai proses atmosfer skala besar dan regional.
Peneliti Ahli Pertama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer, BRIN, Fadli Nauval, mengatakan bahwa Gelombang Rossby Ekuatorial (Equatorial Rossby/ER waves) merupakan gelombang atmosfer skala besar yang terperangkap di sekitar ekuator akibat efek beta dan bergerak ke arah barat dengan skala waktu sekitar 10 hingga 30 hari.
Gelombang ini mampu bertahan cukup lama di suatu wilayah sehingga memberikan waktu bagi sistem konvektif untuk berkembang dan terorganisasi.
Di wilayah Maritim Indonesia, interaksi antara gelombang atmosfer, laut hangat, serta topografi yang kompleks membuat respons konveksi menjadi sangat sensitif.
“Ketika gelombang ini bertemu dengan lingkungan yang lembab, konveksi tidak hanya meningkat, tetapi juga menjadi lebih persisten sehingga berpotensi memicu kejadian hujan ekstrem,” kata Fadli, seperti dikutip dari Brin.go.id, Jumat (20/2).
Fadli fokus pada kajian penelitian pada dua kota ekuatorial Indonesia, yaitu Padang dan Jayapura. Padang yang berada di pesisir barat Sumatra berhadapan langsung dengan Samudra Hindia dan diperkuat oleh pengangkatan orografis Bukit Barisan.




