Hasil penelitian tersebut menemukan 9 spesies, yakni (1) Sicyopterus pugnans, (2) Sicyopterus cynocephalus, (3) Sicyopterus longifilis, (4) Sicyopterus parvei, (5) Sicyoopterus lagocephalus, (6) Stiphodon semoni, (7) Belobranchus segura, (8) Belobranchus belobranchus, dan (9) Bunaka gyrinoides.
Spesies Awaous melanocephalus tidak ditemukan dalam penelitian ini. Kemungkinkan waktu pengambilan sampel tidak bertepatan dengan musim pemijahan spesies tersebut.
Penelitian lainnya menunjukkan bahwa musim bertelur dan pemijahan Awaous melanocephalus pada bulan Juni sampai November.
Kemungkinan lain, spesies Awaous melanocephalus telah mengalami kepunahan di perairan tersebut karena penangkapan ikan yang berlebihan dan perubahan habitat.
Berdasarkan situs fishbase.de, distribusi speises Awaous melanocephalus (Bleeker, 1849) mencakup perairan Asia dan Oceania, India, Sri Lanka, Ryukyu Islands, China, Taiwan, Viet Nam, Thailand, Philippines, Indonesia, Papua New Guinea dan Solomon Islands.
Namun, menurut Femy, perlu penelitian yang mendalam untuk memenuhi informasi ilmiah tentang keanekaragaman hayati akuatik tersebut, termasuk Awaous melanocephalus.
“Awaous melanocephalus secara genetik belum ditemukan. Kemungkinan memang tidak ada, belum ditemukan atau pernah ada, tapi sudah punah,” ujar Femy yang juga alumni Ilmu Kelautan Unsrat Manado ini.





Komentar tentang post