Indikasi El Niño Condition di Samudra Pasifik

Ilustrasi laut. FOTO: DARILAUT.ID

Darilaut – Analisis indikator iklim global terkini menunjukkan indikasi El Niño Condition di Samudra Pasifik, yang terkonfirmasi melalui indeks Niño 3.4 sebesar +0,68 dan nilai SOI sebesar -12,5.

Meskipun demikian, menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), dinamika atmosfer skala regional masih berpotensi memicu pertumbuhan awan hujan, khususnya di wilayah Indonesia bagian Utara.

Sementara itu, bibit siklon 99W diprakirakan di utara Papua Nugini, Samudra Pasifik. Sistem ini membentuk daerah konvergensi dan konfluensi dari Papua Barat hingga Teluk Cendrawasih, di Pesisir barat Papua Barat Daya, dan di sekitar sistem tersebut.

Direktorat Meteorologi Publik BMKG mengatakan sirkulasi siklonik diprediksi terbentuk di perairan barat Sumatra Barat, Samudra Hindia barat daya Banten, dan Laut Sulu.

Sistem-sistem tersebut membentuk daerah konvergensi dan konfluensi di Perairan barat Bengkulu, Perairan barat Sumatra Utara, serta di sekitar sirkulasi siklonik tersebut.

Aktivitas Madden Julian Oscillation (MJO) diproyeksikan menuju fase 6 (Western Pacific) diprediksi masih aktif secara spasial di wilayah Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Maluku Utara, serta wilayah utara Papua Barat dan Papua Barat Daya.

Gelombang Kelvin yang bergerak ke arah timur juga diprediksi aktif melintasi wilayah Aceh, Kalimantan Barat bagian utara, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Gorontalo, dan Sulawesi Tengah.

Gelombang Rossby Ekuatorial yang berpropagasi ke arah barat diprakirakan aktif di Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Gorontalo, dan Sulawesi Tengah.

Aktivitas Gelombang Mixed Rossby-Gravity (MRG) juga diperkirakan aktif di wilayah Aceh bagian utara. Aktivitas MJO dan gelombang-gelombang atmosfer tersebut dapat membantu meningkatkan suplai uap air dan mendukung proses pembentukan awan hujan di wilayah yang dilaluinya.

Analisis iklim terkini BMKG juga menunjukkan sebagian wilayah Indonesia telah mengalami musim kemarau dan sebagian yang lain berada pada periode peralihan.

Kondisi tersebut diindikasikan dengan tutupan awan yang minim sejak pagi hingga tengah hari yang memicu pemanasan permukaan bumi secara intens.

Hal ini berimplikasi pada peningkatan suhu udara maksimum yang melampaui 35,0°C di wilayah Aceh, Riau, Bali, sebagian besar pulau Kalimantan, Sulawesi Tengah, Papua Barat, hingga Jawa Timur pada periode 21 – 24 Mei 2026.

Pada wilayah yang masih berada pada periode peralihan, akumulasi panas dari pagi hingga siang hari ini menyebabkan proses konveksi yang memicu ketidakstabilan atmosfer sehingga terbentuk awan hujan pada sore dan malam hari.

Exit mobile version