Darilaut – Indonesia masih menempati urutan ke 5 tertinggi penyumbang emisi gas rumah kaca. Hingga tahun 2020, tercatat pernyumbang emisi ini berada dari sektor pertanian.
Peneliti dari Southwest University, China, Alexander Zahar, mengatakan pentingnya program penelitian untuk memahami prospek pengurangan emisi gas rumah kaca dari pertanian di Indonesia.
Menurut Zahar hal ini sangat penting karena Indonesia sampai dengan tahun 2020 masih menempati urutan ke 5 tertinggi dalam masalah emisi, khususnya yang dihasilkan dari pertanian.
Zahar menyampaikan hal tersebut dalam workshop internasional dengan tema “Climate Change, Food Security And Sustainable Agriculture“, di Jakarta. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Pusat Riset Hukum (PRH) Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Sosial dan Humaniora – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)
Dalam kegiatan tersebut, para peneliti dari berbagai negara menyampaikan pendapat dan berdiskusi dalam perannya memajukan produksi pertanian dan peningkatan ketahanan pangan.
Tindakan mitigasi dan adaptasi, khususnya dari kegiatan pertanian yang akan menimbulkan emisi harus diminimalisasi oleh pemerintah Indonesia, kata Zahar.
Pusat Penyuluhan Pertanian – Kementerian Pertanian, Sri Mulyani menjelaskan data-data bagaimana Kementerian Pertanian mendukung pertanian berkelanjutan untuk menghadapi perubahan iklim.
Salah satunya, menurut Sri Mulyani, melalui teknologi Climate Smart Agriculture (CSA). Teknologi ini telah banyak yang dilakukan untuk mendukung program climate change di Indonesia.
Programnya antara lain Strategic Irrigation Modernization and Urgent Rehabilitation Project (SIMURP), yaitu modernisasi irigasi strategis dan program rehabilitasi mendesak.
Tujuannya membangun resiliensi ketangguhan pertanian Indonesia terhadap kondisi iklim yang terus berubah untuk meningkatkan produktivitas tanaman dan pendapatan petani.
Kepala Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Sosial dan Humaniora, Ahmad Najib Burhani, mengharapkan dengan acara ini dapat memperoleh pandangan dari berbagai sudut kajian terhadap perubahan cuaca, juga keamanan pangan dan pertanian berkelanjutan bisa terwujud.
Selain Alexander Zahar dan Sri Mulyani, hadir dalam kegiatan ini, Shawkat Alam dari Macquire University, Australia, Michelle Lim dari Singapore Management University, Jun Ichihara dari Institute for Global and Enviromental Studies, serta peneliti Indonesia lainnya.
