Darilaut – Tim pencarian dan penyelamatan kapal selam Titan di sekitar bangkai Titanic makin bertambah dengan membawa peralatan bawah air paling canggih di dunia, pada Kamis (22/6).
Perkembangan terbaru, The Associated Press melaporkan semakin banyak pesawat, kapal, dan peralatan bawah air dari Amerika Serikat (AS), Kanada, dan Prancis, sejak Rabu (21/6), mencari kapal selam yang membawa lima orang hilang dalam perjalanannya ke reruntuhan Titanic tersebut.
Kapal selam kecil bernama Titan, milik perusahaan eksplorasi bawah laut OceanGate Expeditions, telah mencatat keberadaan Titanic dan ekosistem bawah laut di sekitarnya melalui pelayaran tahunan sejak 2021.
Penjaga Pantai AS telah memimpin pencarian sejak Titan menghilang pada hari Minggu (18/6) di daerah terpencil di Samudra Atlantik Utara.
Pada Selasa dan Rabu, sebuah pesawat Kanada mendeteksi suara-suara bawah air di area pencarian pada, menurut Penjaga Pantai AS.
Pejabat mengatakan mereka tidak tahu apa yang membuat suara itu, dan sebuah kapal robotik yang menjelajahi daerah itu sejauh ini “menghasilkan hasil negatif.” Kapal tambahan juga dioperasikan dari jarak jauh.
“Peralatan yang ada di lokasi dan yang akan datang, yang paling canggih di dunia dan tentunya mampu menjangkau kedalaman tersebut,” kata Kepala Eksekutif Perusahaan Kanada Horizon Maritime, Sean Leet, dikutip dari The Associated Press.
Kapal selam ini tenggelam pada Minggu pagi, dan kapal pendukungnya kehilangan kontak sekitar satu jam 45 menit kemudian.
Kapal itu dilaporkan hilang kontak sekitar 435 mil (700 kilometer) selatan St. John’s, Newfoundland, menurut Pusat Koordinasi Penyelamatan Gabungan Kanada di Halifax, Nova Scotia.
Titan diluncurkan dari kapal pemecah es yang disewa oleh OceanGate dan sebelumnya dioperasikan oleh Penjaga Pantai Kanada.
Kapal selam tersebut telah mengangkut puluhan orang ke lokasi bangkai kapal Atlantik Utara, tempat Titan melakukan beberapa kali penyelaman.
Para ahli mengatakan skenario terbaik adalah menemukan Titan di permukaan laut. Itu dilengkapi dengan sistem keamanan untuk membantunya naik ke permukaan selama keadaan darurat, bahkan jika semua orang di dalamnya tidak sadarkan diri.
Namun, jika Titan terjebak di dasar laut, penghuninya pada akhirnya akan kehabisan oksigen dan mengalami hipotermia akibat suhu dingin yang ekstrem.
Kapal juga bisa tersangkut jaring ikan atau belitan lainnya.
Dalam kasus tersebut, kesempatan terbaik untuk mencapainya adalah dengan menggunakan robot yang dioperasikan dari jarak jauh pada kabel serat optik, kata Jeff Karson, seorang profesor emeritus ilmu bumi dan lingkungan di Syracuse University.
Berdasarkan kapasitas 96 jam, pasokan udara kapal bisa habis Kamis pagi.
Menurut seorang pejabat Penjaga Pantai AS upaya untuk menemukan kapal itu tetap menjadi “misi pencarian dan penyelamatan, 100 persen.”
Pejabat Angkatan Laut AS mengatakan pada hari Rabu bahwa sistem penyelamatan angkatan laut khusus yang dapat digunakan untuk mengangkut Titan ke permukaan telah tiba di St. John’s.
